Arif Wachyunadi (Suara NTB/ars)
ESKALASI tuntutan warga Lambu terhadap keberadaan PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) semakin tak menentu. Setelah permintaan pencabutan SK 188 / 2010 dipenuhi pemerintah Kabupaten Bima, kini muncul tuntutan baru yang harapannya bertumpu kepada aparat kepolisian dan mustahil dipenuhi. Yakni meminta para tersangka yang kabur tidak dilanjutkan proses hukumnya, juga kasus pembakaran Kantor Bupati Bima tidak dicari pelakunya.
Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs. Arif Wachyunadi akhirnya berkesimpulan, bahwa ada provokator baru dalam tuntutan terbaru ini. “Setelah SK itu dicabut, kok malah ada tuntutan baru? Nah, dari sini kami identifikasi ada provokator baru,” kata Kapolda, menjawab wartawan terkait situasi terakhir Kabupaten Bima, Jumat (3/2) kemarin.
Berdasarkan identifikasi intelijennya, para provokator berasal dari luar, mempengaruhi masyarakat Lambu dengan tuntutan yang macam – macam dan seolah tak ada habisnya. Kapolda mengaku sudah mengantongi nama – nama provokator dimaksud, namun enggan dibeberkan karena masih dalam perburuan. Jumlahnya juga tak disebutkan, dipastikan lebih dari 10 orang. ‘’Provokatornya sangat banyak, ada puluhan orang. Saya belum bisa sebutkan angka pastinya. Pokoknya banyak,’’ kelitnya.
Para aktor di balik tuntutan warga Lambu ini dipastikan juga berasal dari luar daerah. Mereka masuk ke Bima kemudian menebar pengaruh ke masyarakat sehingga menjadikan situasi semakin tidak stabil. Mengenai asal para provokator juga tidak disebut Kapolda. ‘’Mereka lah yang paling berbahaya, karena membawa pengaruh buruk terhadap masyarakat,’’ pungkasnya. (ars)
|