DENGAN TAHANAN : Kapolda NTB, Arif Wachyunadi bertemu dengan tahanan yang menyerahkan diri. Sementara PNS lingkup Setda Bima sedang menata ruangan kerja. (Suara NTB/use)
Bima (Suara NTB)
Permasalahan Lambu yang semakin pelik tak ingin diselesaikan dengan cara kekerasan oleh Kepolisian. Polda NTB ingin permasalahan di Lambu dapat terselesaikan dengan aman dan damai tanpa pertumpahan darah. Guna mengupayakan perdamaian tersebut, Kapolda NTB Brigjen Pol Drs Arif Wachyunadi mengunjungi tokoh masyarakat (toma) Kecamatan Lambu dan Sape.
Pertemuan Kapolda dengan toma dua kecamatan ini digelar terpisah. Masing-masing toma Sape pertemuan dilaksanakan di rumah Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bima Drs H Nadjib sementara dengan toma Lambu dilaksanakan di RM Arema Pelabuhan Sape. Dalam kesempatan itu, Kapolda mengutarakan niatnya untuk menyelesaikan masalah Lambu dengan damai. Sebab kepolisian lebih mengutamakan terciptanya situasi kondusif di Lambu dan Bima secara umum.
Menyusul situasi saat ini yang makin memanas dan masih dilakukannya pemblokadean di Kecamatan Lambu. Kapolda menjamin tidak akan ada penyisiran dan penangkapan terhadap warga Lambu demi terciptanya stabilitas di Kabupaten Bima.
“Saya datang ke sini bukan untuk melakukan penyisiran dan penangkapan tapi untuk menjalin silaturahmi. Tidak akan ada penangkapan warga Lambu kecuali pencuri ternak atau motor,” ujar Kapolda NTB Brigjen Pol Drs Arif Wachyunadi kepada masing-masing toma dimaksud.
Khusus bagi para tahanan yang lebih disebutnya sebagai masyarakat yang tengah menjalankan proses hukum yang dibebaskan oleh ribuan massa, ia kembali mengimbau untuk kembali menyerahkan diri. Terlebih para warga yang tengah menjalani proses hukum ini dalam usia yang produktif. “Sehingga lebih baik menjalani proses hukum sekarang dari pada menjadi DPO seumur hidup,” tuturnya.
Sementara dalam pertemuan itu, warga juga mengungkapkan sebenarnya tidak ingin melakukan pemblokiran jalan. Hanya saja, warga masih khawatir dengan beredarnya isu pasukan Brimob yang akan masuk ke wilayah Lambu untuk melakukan penyisiran dan penangkapan terhadap warga Lambu.
Guna terciptanya perdamaian ini, para tokoh masyarakat Lambu maupun Sape siap untuk memediasi para tahanan dimaksud. Bahkan mereka siap mengantarkan mereka kembali ke Rutan. Sebab menurut para tokoh tersebut, pada dasarnya para tahanan tidak melarikan diri namun dijemput keluarganya saat kerusuhan saat itu. “Kami minta dengan tulus agar warga yang menjadi tahanan untuk segera kembali,” pesan H Junaid, tokoh masyarakat Lambu.
Hal senada juga diungkpkan oleh toma Sape yang menginginkan mereka segera kembali. Bahkan jika mereka takut dirinya siap untuk mengantar. “Saya siap mengantarkan ke Rutan jika masih merasa takut,” ujarnya.
Anggarkan Rp 1,5 Miliar
Sementara pascapembakaran kantor Bupati Bima, hingga kemarin, seluruh pegawai Lingkup Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bima masih menata dan membersihkan ruang kerja masing-masing di kompleks UPTD LLK Kelurahan Jati Wangi, Kota Bima. Sementara untuk perbaikan dan pembelian meubeler dan peralatan perkantoran lainnya Pemkab menganggarkan dana sebesar Rp 1,5 miliar.
Kabag Humas dan Protokol (Humaspro) Drs Aris Gunawan yang ditemui di ruang kerja mengatakan, hingga kemarin pihaknya masih bersih-bersih dan penataan ruang kerja. Termasuk ruang kerja Bupati Bima, Wakil Bupati Bima dan Sekda yang berada dalam satu ruangan. Khusus untuk ruangan tiga unsur pimpinan daerah ini, perbaikannya dilakukan sejak awal termasuk pada bagian plafon. Sebab sebelumnya ruangan ini merupakan ruangan yang paling kotor dan tidak tertata.
Rencanannya kegiatan bersih-bersih dan penataan meleset dari perkiraan sebelumnya dan akan selesai dalam minggu ini. Diperkirakan kegiatan pelayanan dan perkantoran baru akan efektif minggu depan. “Saat ini seluruh pegawai masih melakukan kegiatan bersih-bersih,” ujarnya.
Sementara itu, hingga kemarin seluruh ruangan masih belum dilengkapi kursi, meja dan alat-alat perkantoran. Rencanannya meja dan alat-alat perkantoran baru akan ada setelah dana. Untuk perbaikan dan pengadaan meubeler dan alat-alat perkantoran ini akan dianggarkan dari dana penanggulangan bencana BPBD tahun 2012. Penggunaan dana ini pun telah dikonsultasikan kepada BPKP Denpasar agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. “Kami telah menganggarkan total Rp 1,5 miliar untuk perbaikan seluruh ruangan lingkup Setda,” ujarnya.
Pantauan Suara NTB, kegiatan bersih-bersih ini dilakukan oleh seluruh pegawai. Namun ada juga yang hanya duduk-duduk di komplek-komplek perumahan setempat. Umumnya para pegawai ini memasang instalasi listrik, membersihkan lantai. Namun di beberapa bagian seperti ruangan Asisten, para pegawai terlihat sibuk melakukan pengetikan.(use)
|