PUING : Puing bangunan Kantor Bupati Bima setelah aksi pembakaran kemarin. Sementara, aparat TNI tampak berjaga-jaga di depan Kantor Bupati Bima. (Suara NTB/use)
Usai melampiaskan kekesalannya di tempat tersebut, massa pun terbagi menjadi dua konsentrasi. Direncanakan sebagian menyerbu Rutan Raba Bima guna membebaskan 52 warga Lambu yang ditahan terkait pemblokiran Pelabuhan Sape serta konsetrasi ke dua menuju Pendopo Bupati Bima guna mencari Bupati. Namun massa yang menuju Kantor Bupati urung setelah mengetahui jika di sekitar Pendopo dijaga ratusan pendukung Bupati.
AKSI massa di Rutan Raba Bima cukup berhasil. Meski tanpa tindakan anarkis, mengetahui ribuan massa berdatangan, petugas Rutan Raba Bima akhirnya membebaskan tahanan yang diminta termasuk koordinator aksi sebelumnya, Hasanudin, Sahabudin dan Agus Supardin. Setelah mendapatkan para tahanan ini, massa yang menggunakan puluhan truk, kendaraan pick up ini kembali ke kecamatan masing-masing.
Setelah aksi pembakaran di Kantor Bupati Bima, salah satu konsentrasi massa menuju Rutan Raba Bima. Penyerangan tersebut dilakukan guna membebaskan 52 orang warga Kecamatan Lambu yang ditahan terkait peristiwa pemblokiran Pelabuhan Sape beberapa waktu lalu. Setelah sempat dilempar, pihak Rutan akhirnya melepaskan ke 52 orang tahanan tersebut.
Sesampainya di Rutan, ribuan massa yang juga membawa senjata tajam dan besi sempat melempari bangunan Rutan. Akibat lemparan tersebut, sejumlah kaca pun pecah. Namun beberapa saat kemudian, Kepala Rutan Bima, Gun Gun Gunawan dan Kasi Pengamanan Dalam, Abdul Khalik menyebutkan bersedia membebaskan para tahanan yang kasusnya kini tengah ditangani oleh Kejaksaan.
Ditemui usai pembebasan, Abdul Khalik, menyebutkan kebijakan tersebut diambil pihaknya karena mempertimbangkan jumlah massa yang datang. Sehingga pihaknya membebaskan seluruh tahanan Lambu ini dari pada pihaknya harus menempuh risiko yang lebih besar yakni dirusaknya bangunan Rutan sehingga terjadi kericuhan yang mengakibatkan tahanan lain kabur. “Kita keluarkan tahanan Lambu karena membertimbangkan massa yang jumlahnya puluhan ribu yang datang menyerang,” ujarnya. Jumlah tersebut, katanya, tak sebanding dengan jumlah petugas keamanan yang hanya 61 orang.
Sementara setelah berhasil mengeluarkan tahanan, massa tidak melakukan tindakan anarkis. Saat itu juga massa ini kembali ke kecamatan masing-masing. Selanjutnya, di Rutan, guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, penjagaan juga dilakukan oleh aparat TNI bersenjata lengkap.
Sementara itu, saat pembebasan dilakukan massa juga berencana menyerang Pendopo Bupati Bima guna mencari Bupati Bima Ferry Zulkarnain ST. Hanya saja, penyerangan tersebut urung dilakukan setelah mengetahui di Pendopo dijaga ketat oleh aparat Kepolisian, Sat Pol PP dan ratusan pendukung Bupati. Sehingga massa pun kembali bergabung dengan massa di Rutan. Meski penyerangan tak jadi dilakukan, hingga malam hari aparat Kepolisian, Sat Pol PP dan pendukung Bupati tetap melakukan penjagaan.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Bima Iptu, M. Said selaku komandan pengamanan di Pendopo menyebutkan penjagaan ini dilakukan atas perintah Kapolres Bima Kota AKBP Kumbul KS SIK menyusul adanya rencana penyerangan oleh massa. Namun jumlahnya tidak sebanyak personil di Kantor Bupati Bima. “Di personel yang ditugaskan jumlahnya puluhan, tapi juga dibantu Pol PP,” tandasnya.
Sekitar satu jam setelah kejadian, aparat Polres Bima dan Brimob dibantu aparat Kodim 1608/Bima berjaga-jaga dan mengamankan lokasi. Hingga berita ini ditulis, aparat bersenjata lengkap ini masih melakukan penjagaan di sekitar lokasi. Saat aparat melakukan penjagaan, api yang menghanguskan gedung masih terlihat menyala dan mengeluarkan kepulan asap tebal.
Sebenarnya, saat massa mulai beringas, Koordinator Aksi, Mulyadi sudah berupaya meredam dengan menyebutkan kedatangannya ke lokasi bukan untuk melakukan tindakan anarkis melainkan menunjukkan tuntutan pencabutan SK ini murni dari masyarakat. Saat itu, ia juga menjelaskan jika pihaknya mendapat informasi kabar gembira dari dua perwakilannya di Jakarta. Yakni terkait tuntutan tersebut, Kementrian ESDM, DPR RI dan Gubernur NTB telah memberikan rekomendasi agar SK dicabut. Saat ini pihaknya hanya menunggu penandatanganan pencabutan dari Bupati Bima.
‘’Yang jelas ini suatu kemenangan bagi kita dan informasi ini bisa dipercaya,’’ tandasnya. Namun massa yang sudah telanjur beringas tak mau tahu dan melanjutkan aksi pengerusakan dan pembakaran.
Kapolres Bima Kota AKBP Kumbul KS SIK yang dikonfirmasi terkait peristiwa penyerbuan dan pembakaran oleh hampir sepuluh ribu massa ini menolak memberikan keterangan
Masyarakat Kota Dilarang Keluar
Puing-puing Kantor Bupati Bima beserta sejumlah kantor lainnya pascadibakar massa menjadi tontotan warga. Mereka penasaran menyusul dibakarnya kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima ini. Sementara beberapa saat setelah kejadian, aparat Kepolisian meminta warga sekitar Kantor Bupati untuk tidak keluar rumah.
Selepas di tinggal massa, ruas jalan Sukarno-Hatta di depan Kantor Bupati Bima mendadak dipenuhi warga yang melintas. Para pengendara yang umumnya pegawai pemerintahan ini tak menyangka jika kantor yang berdiri megah berdampingan dengan Kantor Wali Kota Bima ini harus berakhir di tangan massa.
Semakin sore, jumlah massa yang datang makin bertambah. Bukan lagi dari orang-orang yang kebetulan melintas melainkan warga yang sengaja datang untuk menyaksikan dari dekat peristiwa dimaksud. akibatnya, untuk beberapa saat, ruas jalan tersebut sempat macet oleh kendaraan warga. Salah seorang warga yang ditemui, Romi, menuturkan jika ia sengaja datang bersama tiga orang kawannya untuk melihat kantor yang dibakar massa ini. Hingga menjelang magrib, lokasi tersebut terus dipenuhi oleh warga.
Sebelumnya, ia mendapat kabar dari warga lainnya yang menyebutkan kantor tersebut menjadi sasaran amuk massa. ‘’Makanya untuk menjawab rasa penasaran, saya sama teman-teman datang ke lokasi,’’ ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Mira, salah seorang mahasiswi di Bima.Mira yang tinggal di dekat lokasi kejadian, ikut karena diajak oleh temannya. Ditanyai tentang tanggapannya, terkait peristiwa ini ia tak mau menjawab panjang lebar karena tak ingin mencampuri masalah pemerintahan. Namun ia berharap, kondisi Bima bisa aman dan tidak mengganggu warga lainnya.
Sementara itu, pascakejadian aparat Polres Bima Kota keliling dengan kendaraan mengimbau ke setiap kelurahan sekitar Kantor Bupati Bima. Menggunakan kendaraan patroli, Polisi mengumumkan kepada warga untuk tidak keluar rumah dan tetap berada di rumah. “Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, kami imbau warga untuk tetap berada di rumah,” ujar petugas.
Imbauan ini pun tak dindahkan warga. Namun beberapa kemudian terlihat warga sekitar lokasi pembakaran keluar rumah karena menganggap situasi sudah kondusif. Umumnya mereka berkumpul di depan-depan rumah membicarakan persoalan yang terjadi. Bahkan sepintas lalu, beberapa warga secara terang-terangan menyebutkan jika pemilik kebijakan mencabut saja SK tersebut agar Bima menjadi aman.
Sementara itu, aksi pembakaran ini rupanya membuat para pedagang di pasar Raba Bima trauma. Setelah aksi pembakaran di Kantor Bupati Bima usai, para pedagang ini pun menutup tokonya. Mereka khawatir, massa akan memaskui pasar dan pertokoan Bima untuk melakukan penjarahan. Setelah menutup tokonya, para pedagang ini hanya duduk-duduk di depan toko dan membahas aksi pembakaran yang dilakukan oleh massa.(use)