KHATIB : Gubernur NTB,TGH.M,.Zainul Majdi menjadi khatib dalam Salat Jumat di Masjid An Nur, Desa Sumi, Kecamatan Rato kemarin, Gubernur juga menyempatkan diri berkunjung ke rumah warga. (Suara NTB/use)
Bima (Suara NTB)
Gubenur NTB Dr.TGH.M.Zainul Majdi, MA beserta rombongan, Jumat (6/1) kemarin melanjutkan silaturahmi dengan Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (FKPD), tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga) dan jajaran Pemerintah Kabupaten Bima. Dalam kesempatan itu, Gubernur mengingatkan semua elemen di Bima tidak saling menghujat menyusul insiden yang terjadi beberapa waktu lalu.
Menurut Majdi, dalam situasi seperti ini, tidak elok jika harus diikuti dengan adanya saling hujat baik dari pimpinan daerah maupun pihak-pihak lainnya. Sebab saling hujat tersebut tidak akan memberikan keuntungan. Gubernur bahkan mengajak semua elemen baik Pemkab Bima, masyarakat dan pemuda untuk menyembuhkan situasi yang terjadi dan melanjutkan pembangunan. ‘’Mari kita pastikan tahun ini, Pemkab Bima lebih membanggakan lagi,’’ ujarnya.
Lebih jauh, Gubernur mengingatkan jika saat ini bukan saat yang tepat untuk mengumpulkan massa. Saat ini, lanjutnya, merupakan saatnya mengisi rumah dengan mengarahkan anak-anak untuk tidak menjadi provokator.
Majdi pada kesempatan itu menyampaikan ada tiga hal penting yang mesti dipedomani Pemkab. Bahwa, filosofi pimpinan daerah itu hadir untuk masyarakat. Semangat pelayanan bagi masyarakat yang utama. Pimpinan daerah, katanya, merupakan pelayan bagi masyarakat. Pemimpin itu hadir bukan karena kehebatannya, bukan karena gelar atau karena keistimewaannya, namun pemimpin itu hadir karena masyarakatnya rela dipimpin olehnya. Sehingga kerelaan itu baru bisa dibayar dengan komitmen untuk melayani masyarakat. ‘’Demikian juga Bupati, jadi Bupati dua periode misalnya, karena masyarakat mempercayakan dan merelakan untuk menjadi pemimpin,” tandasnya.
Semangat melayani ini, lanjutnya, bisa tercermin dalam semua kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Yakni kebijakan yang menyamankan masyarakat. Sebab, masyarakat tentu lelah bekerja setiap hari, lelah bertani bagi yang bertani lelah melaut bagi yang melaut. Dirinya paham, Bupati pemegang otoritas penuh dalam mengambil kebijakan, namun pemegang otoritas harus memastikan dan memenuhi kaidah-kaidah keadilan masyarakat tidak saja kaidah formal. “Untuk itu, saya meminta pastikan pelayanan itu menjadi rohnya pemerintah,” tandasnya.
Poin kedua yang ditekankan Gubernur kepada seluruh toma, toga khususnya para ulama baik secara formal maupun non formal untuk turun menjelaskan apa yang harus dijelaskan kepada masyarakat. Begitu pula dengan tokoh pemuda, agar mengarahkan kreativitas semangat membangun daerah, namun tak boleh dalam usia belia justru melakukan tindakan-tindakan yang anarkis.
Ketiga, Gubernur ingin agar masyarakat Bima di awal tahun 2012 ini menjadikan peristiwa sebelumnya sebagai refleksi. Sehingga pembangunan infrastruktur berjalan, perpolitikan juga dinamis.
Rangkaian silaturahmi Gubernur di Kabupaten Bima ditutup dengan Salat Jumat di Masjid An Nur, Desa Sumi, Kecamatan Rato. Usai melaksanakan Salat Jumat, Gubernur beserta rombongan pun bergeser ke Masjid AR Rahman Desa Rato, basis massa yang menolak keras kehadiran tambang emas. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur memberikan ceramah untuk tetap menjaga nurul atau cahaya.
Dalam pelaksanaan Salat Jumat tersebut, Gubernur NTB bertindak langsung sebagai khatib dan imam salat. Ikut dalam rombongan itu, Danrem 162/WB, Sekda NTB serta sejumlah pejabat Pemprov NTB, FKPD.
Dalam ceramahnya, Gubernur mengajak masyarakat Lambu khususnya Desa Rato dan Desa Sumi untuk mengisi tahun 2012 yang baru dimulai dengan hal-hal yang baik. Sesuai dengan ajaran nabi, Majdi juga menganjurkan agar masyarakat selalu menjaga tiga nurul atau cahaya. Yakni nurul iman, nurul ukhuwah dan nurul (cahaya) keluarga.
Untuk cahaya yang pertama yakni cahaya iman, tentu berbeda-beda. Terkadang keimanan seseorang tebal namun terkadang juga menipis. Keimanan seseorang akan teruji ketika ia mampu menjaga keimanan dirinya. Tidak melakukan hal-hal yang dilaknat oleh Allah SWT.
Selanjutnya, cahaya ukhuwah atau saudara, artinya semua umat muslim tentunya bersaudara. Jangankan warga Desa Rato, warga Kecamatan Lambu pun bersaudara begitu juga dengan warga Kabupaten Bima. “Saya pun bukan dari Bima, tapi merasa bersaudara dengan masyarakat Bima,” tandasnya.
Kemudian cahaya keluarga, artinya, umat manusia hadir di dunia ini melalui orang tua. Caranya dengan meneladani sifat-sifat orang tua. Tak hanya bapak atau ibu, namun terus ke atas hingga nenek moyang.
Sementara itu, ditanyai mengenai tuntutan masyarakat tentang pencabutan SK usai memberikan ceramah, Gubernur menyebutkan jika dirinya sudah menyampaikan ke Bupati Bima untuk mencabut. Memang, katanya, Pemkab sudah menunjukkan niat baiknya untuk menghentikan sementara izin pertambangan tersebut selama satu tahun. Namun itu belum cukup demi terciptanya ketenangan masyarakat. “Saya sudah sampaikan ke Bupati, mudah-mudahan seperti itu,” tandasnya.
Selanjutnya, menyusul situasi yang sudah mulai kondusif ini, Gubernur berharap agar masyarakat bisa beraktivitas kembali seperti biasa. Masyarakat memiliki kembali semangat bekerja untuk terus-menerus membangun Kecamatan Lambu.
Saat ini, tandasnya, tidak ada aktvfitas pemerintahan yang lumpuh, pemerintahan terus berjalan. Menyangkut sejumlah fasilitas yang rusak, semua itu akan diserahkan pembangunannya ke Pemerintah Daerah.(use)