ISU adanya “tangan” Nazaruddin ikut mengobok-obok anggaran proyek Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Mataram (Unram), bukan satu – satunya. Sejak awal, hingga kini masih banyak yang berkepentingan dan ingin masalah pada proyek tersebut dibongkar.
Diceritakan Rektor Unram, Prof. Dr. Sunarpi, sejak mengambilalih proyek itu (RSP Unram), teror beragam bentuk diterimanya. Mulai dari proses tender tahap dua yang
mengundang kontroversi, khususnya dari rekanan yang kalah. Ada yang menyampaikan
sanggahan, tapi ada yang melayangkan gugatan perdata. Meskin pun akhirnya
menang, tapi itu dianggapnya cukup menguras energi.
Energinya juga terkuras untuk menjawab ancaman oknum LSM, bahkan media yang berupaya menguak indikasi penyimpangan pada proyek itu. Pada dasarnya Sunarpi mengaku tidak ada persoalan, karena menjadi hak mereka. Akan tetapi Rektor balik
mempertanyakan bukti – bukti penyimpangan dimaksud. Selama ini yang dilihatnya
hanya asumsi.
Diakuinya, gempuran berbagai masalah itu tidak lepas dari upaya pihaknya
berusaha “meluruskan” pelaksanaan proyek RSP itu sesuai ketentuan. Sehingga
indikasi mengarah pada pihak – pihak yang tidak puas. Sunarpi bahkan sempat
berpikir untuk melepas tanggungjawab dari proyek itu, akan tetapi kewajibannya
sebagai penanggungjawab tidak bisa dihindari. ‘’Karena ini proyek pusat, saya
sempat minta kepada Dirjen Pendidikan, agar saya hanya fokus saja urus
pendidikan,” kata Sunarpi, namun tentu saja permintaanya itu ditolak.
Berbagai risiko mulai bermunculan. Termasuk “hilangnya” anggaran Rp 80 miliar
yang seharusnya turun untuk tahap ke tiga di RSP Unram. Belakangan anggaran itu
dialihkan ke RSP Universitas Sumatera Utara (USU), diduga bagian dari skenario
kebijakan anggaran di pusat. “Saya terus terang sedih, tahun ini tidak dapat
anggaran,” akunya.
Tapi itu tidak membuat pihaknya patah arang. Justru disyukurinya, dengan tidak
teralokasikannya anggaran itu membawa hikmah bagi pihaknya. Sebab jika
sebelumnya anggaran itu jatuh ke Unram, maka praktis akan dikait – kaitkan
dengan perbuatan Nazaruddin.
Namun tentu saja pihaknya tidak akan berhenti sampai disana. Proyek harus
berlanjut. Meski anggarannya gagal diterima,namun akan diusulkan kembali ke APBN
Perubahan.(ars)