suarantb
 
RedaksiIklanArsipHalaman UtamaHari Ini
Kondisi Pertambangan Liar Sekotong Kini (2-Habis)
Penambang Berkurang, Pemerintah Desa Mulai Berbenah
 
updated: Selasa 03/08/10

DITINGGAL : Beberapa tenda yang juga sebagai penutup lubang galian penambang kini sudah banyak yang tidak berpenghuni karena ditinggal sang pemilik hijrah ke Sumbawa. (Suara NTB/smd)




Munculnya lokasi penambangan baru di luar Sekotong, khususnya di wilayah Hijrat Kabupaten Sumbawa dan wilayah lainnya di Pulau Sumbawa, sedikit demi sedikit mengurangi aktivitas penambangan liar di Sekotong. Kesempatan baik inilah yang dimanfaatkan pemerintah desa setempat untuk melakukan pembenahan. Seperti apa konsep pembenahan yang dilakukan ?

KEPALA Desa Pelangan Maimun HM kepada Suara NTB mengakui, kondisi Sekotong sudah berangsur-angsur kembali seperti semula, meski aktivitas penambangan masih terus berlangsung. Menyikapi hal itu, berdasarkan hasil rapat desa yang digelar beberapa waktu lalu bersama seluruh jajaran serta pihak BPD setempat, Desa Pelangan akan mulai melakukan pembenahan dalam beberapa hal. 

Dikatakan Maimun, pembenahan yang dimaksudkan adalah pembenahan dari sektor pertambangan serta pariwisata. Dimana Desa Pelangan dan Sekotong secara umum merupakan salah satu daerah yang memiliki kekayaan alam yang terhitung tidak sedikit, baik itu berupa tambang, pariwisata serta komoditi laut. ‘’Khusus untuk sektor pertambangan, kita akan buat Peraturan Desa (Perdes) yang nantinya bisa menjadi alat pengimbang antara aktivitas pertambangan dengan pendapatan desa,’’ ujarnya. 

Sejauh ini, pihaknya melalui jajaran Kepala Dusun (Kadus) dan para Ketua Rukun Tetangga (RT) sedang melakukan pendataan terhadap keberadaan aktivitas pertambangan di daerah masing-masing. Baik itu jumlah penambang setiap harinya, termasuk jumlah lubang dan lokasi, serta jumlah mesin gelondong yang masih beroperasi. 

Mengenai keberadaan masyarakat luar, dikatakan kepala desa dua periode tersebut penambang luar dalam beberapa bulan terakhir ini mulai berkurang karena kebanyakan pergi ke Sumbawa. ‘’Dengan berkurangnya penambang asal luar, kita lebih leluasa dalam mengatur masyarakat dan juga wilayah kita,’’ imbuhnya. 

Lalu bagaimana dengan pengembangan sector pariwisata ? Maimun menyatakan saat ini pemerintah desa tinggal menunggu adanya keputusan dari Pemkab Lobar. Yang jelas, tambahnya, sektor pertambangan bisa disandingkan dengan pariwisata mengingat lokasi antara pertambangan dengan pariwisata cukup berjauhan. ‘’Kami rasa dua-duanya bisa berjalan. Tinggal apa keputusan Pemkab saja,’’ katanya. 

Sementara itu, hasil pantuan Suara NTB beberapa lokasi pertambangan yang kini mulai banyak ditinggalkan para penambang adalah lokasi di Dusun Selindungan. Di dusun ini, banyak tenda-tenda yang sudah tidak berpenghuni serta lubang-lubang menganga yang hanya meninggalkan sisa-sisa tanah galian.

Menurut beberapa orang penambang yang memang hanya penambang lokal atau warga setempat, lokasi tersebut sejak satu bulan terakhir ini sudah mulai sedikit berkurang didatangi penambang. Jika dahulunya puluhan bahkan ratusan tenda yang menutupi bukit di Dusun Selindungan selalu memperlihatkan cahaya lampu pada malam hari, kini sudah mulai gelap gulita karena penambang lokal memilih pulang ke rumah masing-masing. 

“Dengan perginya penambang asal luar Sekotong, paling tidak kami selaku warga setempat lebih leluasa untuk menambang. Karena rata-rata kemampuan kita menambang relatif sama, tidak begitu halnya dengan penambang luar yang lebih mahir,” kata Tauhid (29) penambang dari Dusun Selindungan. (smd)

@Copyright Suara NTB