Subagyo (Suara NTB/ula)
ALUMNI pondok pesantren (Ponpes) tidak harus memimpin Ponpes atau bekerja di
lingkup pondok, tetapi alumni satri juga bisa menjadi pejabat dan menjadi
polisi. Dalam rekrutmen polisi saat ini tidak dipungut biaya.
Hal itu disampaikan Waka Polda NTB, Kombes Pol Drs. Subagyo dalam acara
Silaturrahminya di Pondok Pesantren Al Kautsar Ranggo Kecamatan Pajo, Senin
(2/8) kemarin. Dikatakan Subagyo, jika lulusan bukan pendidikan agama bisa dan
berhasil memimpin popes, maka kedepan juga harus diubah citranya
bahwa lulusan pesantren tidak harus memimpin ponpes atau bekerja di ponpes. ‘’Tapi
bisa menjadi pejabat dan anggota polisi,’’ katanya.
Untuk menjadi anggota polisi, lanjutnya, satri harus bisa
menyiapkan diri sedini mungkin. Karena selain harus pintar, untuk menjadi polisi
harus didukung oleh kesehatan tubuh yang baik. “Dari sekarang harus bisa
dipersiapkan,” katanya.
Subagyo juga mengatakan, rekrutmen anggota polisi saat ini
dilakukan secara gratis. Jika tidak memenuhi syarat langsung dinyatakan tidak
lulus. Karena rekrutmen anggota polisi melibatkan berbagai elemen di luar
polisi seperti IDI dan Ikatan Psikolog Indonesia. “Hasil tes langsung
diumumkan, sehingga tidak ada peluang siapapun bermain dalam rekrutmen anggota
polisi,’’ ungkapnya.
Subagyo berharap, para santri tidak hanya dibekali ilmu agama saja selama dididik dan di bina di pondok, tetapi juga harus dibina dan dididik keterampilan serta wira usaha di sela-sela mendalami ilmu agama. ‘’Dengan adanya kemandirian santri, maka pontensi yang dimiliki pondok bisa dioptimalkan untuk kemajuan pendidikan,’’ katanya. (ula)
|