Mataram (Suara NTB)-
Pemprov NTB mengklaim, semenjak program Bumi
Sejuta Sapi (BSS) dimulai, populasi sapi sudah meningkat dari 546.114
ekor menjadi 616.649 ekor. Peningkatan sebesar 12,9 persen ini terjadi
dalam kurun waktu Januari 2009 hingga Juni 2010.
Klaim itu disampaikan oleh Wakil Gubernur NTB, Ir. H. Badrul Munir,
MM, saat menyampaikan pidato jawaban Gubernur NTB terhadap pemandangan
umum fraksi – fraksi di DPRD NTB, Sabtu (24/7). Dalam pidatonya,
Badrul menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui program BSS,
tahun 2009 mencapai 252 kelompok peternak. Nilai dana yang dikucurkan
mencapai Rp 30,308 miliar. Dana itu bersumber dari APBD Perubahan
sebesar Rp 4,545 miliar dan APBN sebesar Rp 25,480 miliar.
Menurut Badrul, anggaran itu telah dimanfaatkan petani peternak untuk
pengadaan ternak sapi sebanyak 4.351 ekor, stimulan kandang kelompok
27 unit, rekrutmen 50 orang Sarjana Membangun Desa (SMD) Peternakan,
LM3 sebanyak 10 pesantren dan pengembangan lokasi Inseminasi Buatan
(IB) sebanyak delapan unit.
Selain berhasil mencapai peningkatan populasi sebesar 70.580 ekor
ternak dalam waktu satu tahun lebih, Pemprov NTB juga melihat
harga ternak di pasaran cukup kondusif. Harga sapi potong mencapai Rp
24.000 hingga 25.000 per kilogram berat hidup. Harga sapi bibit
berkisar antara Rp 3,8 juta hingga Rp 4 juta per ekor.
Dalam pidato disebutkan pula bahwa Pemprov NTB telah mengeluarkan
sejumlah regulasi untuk menunjang keberhasilan program BSS tersebut.
Beberapa regulasi dimaksud antara lain menyangkut pengaturan tata
niaga ternak, pengendalian pemotongan sapi betina produktif dan
pembibitan sapi berbasis masyarakat. ‘’Regulasi tersebut dikeluarkan
dalam bentuk peraturan Gubernur (Pergub),’’ ujar Badrul Munir.
Penjelasan mengenai pelaksanaan dan capaian program BSS ini
disampaikan untuk menjawab pertanyaan Fraksi PDIP DPRD NTB yang
dalam pemandangan umumnya beberapa waktu lalu mempertanyakan
pelaksanaan program ini.
Dalam sidang paripurna pemandangan umum fraksi DPRD NTB beberapa waktu
lalu, juru bicara FPDIP, Dra. Endang Yuliati mempertanyakan sejauh
mana program BSS mampu mensejahterakan para peternak sapi. “Kami
sering mendengar keluhan- keluhan dari para peternak ada penurunan
harga sapi dipasaran, sedangkan ibu ibu mengeluh harga dari waktu ke
waktu selalu naik. Mohon kejelasan tentang ketidaksinkronan
keluhan-keluhan masyarakat tersebut,” ujar Endang. (aan)