suarantb
 
RedaksiIklanArsipHalaman UtamaHari Ini
Manfaatkan Lahan Kering
 
updated: Senin 19/07/10

Suwardji (Suara NTB/dok)


 

 

PUSAT Penelitian Pengembangan Lahan Kering Tropika (P3LKT), Unram, melakukan ujicoba pengembangan aneka sayur di lima lokasi yang notabene merupakan lahan kering. Pengembangan ini memanfaatkan teknologi dan percepatan difusi yang didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi.

Ketua P3LKT, Unram, Prof. Dr. Suwardji., kepada Suara NTB, Sabtu (17/7) lalu di ruang kerjanya, mengakui proyek dukungan Menristek dalam budi daya aneka sayur dilatarbekalangi masih tingginya impor sayur. Fenomena harga tinggi pada komoditi sayur, menjadi orientasi Suwardji untuk distabilkan, di samping melatih masyarakat (kelompok tani) dalam budi daya sayur-sayuran.

“Budi daya aneka sayur ini memanfaatkan teknologi irigasi sprinkle big gun untuk mengembangkan sentra produksi holtikultura unggulan lahan kering. Kita menyadari impor kebutuhan sayur termasuk untuk NTB masih sangat tinggi,” papar Suwardji.

Disebutkan Suwardji, budi daya sayuran ini dilakukan di 400 hektar milik kelompok petani. Lokasi uji coba menyebar masing-masing di Akar-Akar, Kecamatan Bayan, Lombok Utara pada areal areal seluas 28 hektar dengan konsentrasi komoditi berupa tomat. Lokasi lain di KLU ada di Jugil, Kecamatan Gangga, dengan kisaran luas areal 30 hektar untuk komoditi bawang merah Ampenan.

Lokasi lainnya ada di Pringgabaya, Lombok Timur dengan konsentrasi komoditi berupa aneka sayur (tomat, teong dan kacang panjang). Dua lokasi lain berada di Pulau Sumbawa, yakni di Terano, Kecamatan Empang, Sumbawa, berupa komoditas bawang merah Ketamonca, dan di Dharma Sari, Kecamatan Kempo Dompu untuk komoditas tomat.

Lokasi-lokasi ini dipilih karena dinilai potensial dengan dukungan irigasi baik bendungan maupun sumur bor. Kelompok tani yang dilibatkan sebagian sudah intim dengan pengembangan sayur serupa, di samping sebagiannya masih baru.

“Ujicoba sayuran ini dilakukan selama setahun, namun pembinaan akan dilakukan berkelanjutan. Dari upaya ini, diharapkan akan muncul profil kelompok tani unggulan,” harapnya.

Suwardji mengatakan, komoditi sayur yang dikembangkannya ini sebagiannya potensial ekspor. Sebut saja, bawang merah Ampenan dan bawang merah Ketamoncha, yang sangat disukai pasar Malaysia. Kendati demikian, Suwardji lebih memprioritaskan pasar lokal.
“Kita berharap, budidaya di lima lokasi ini mampu menciptakan swasembada sayuran di daerah dan mampu menstabilkan harga sayuran,” imbuhnya.

Secara teknis, ujicoba P3LKT asuhan Suwardji sudah memasuki tahap pembibitan di masing-masing lokasi. Awal Agustus, sudah memasuki tahap penanaman. Lama proses tanam yang diperkirakan tidak lebih dari 3 bulan ke depan, melambungkan harapan produksi masyarakat ini akan mengintervensi harga pasar usai lebaran mendatang.

“Ke depan, akan kita pikirkan juga bagaimana stabilisasi harga sehingga kelompok tani juga tidak merugi. Untuk sementara karena impor masih tinggi, harga dan permintaan tidak terlalu sulit. Bukan mustahil, petani juga bisa ekspor ke Malaysia,” tandas Suwardji. (joe)

©Copyright Suara NTB