TIDAK KHAWATIR -- Para petani di Batumore, Desa Sukadana, Kecamatan Sikur, Lotim ini, tengah memelihara tanaman tembakaunya dengan mengolah kembali lahannya pascaturunnya hujan. Teknologi pemeliharaan tanaman yang makin maju tak membuat petani khawatir akan stagnannya tanaman tembakau pascaturunnya hujan. (Suara NTB/zul)
Selong (Suara NTB)-
Dengan terapan teknologi sederhana dan tambahan sedikit pemupukan, hujan yang turun menyirami tanaman tembakau di Pulau Lombok tampaknya tidak lagi membuat para petani tembakau khawatir akan merugi. Para petani optimistis panen yang akan berlangsung pada pekan-pekan mendatang tidak akan banyak mempengaruhi kualitas hasil panen.
Dari para petani yang ditemui Suara NTB di sela-sela pengolahan lahan di Kecamatan Sikur, Lombok Timnur (Lotim), Rabu (14/7) kemarin diperoleh keterangan, bahwa teknologi sederhana untuk pemeliharaan tanaman telah mulai dilakukan petani sejak beberapa tahun lalu. ‘’Kini biar hujan, kami tidak khawatir panen tembakau kami akan merugi,’’ kata Amaq Taslim, seorang petani di Desa Sukadana.
Para petani, khususnya petani mitra perusahaan pengelola tembakau, umumnya tidak ambil pusing dengan sesering apa pun hujan turun di pertengahan musim tanam tembakau, seperti yang kerap terjadi dewasa ini. Melalui proses gebuh, kres dan tebak pada lahan, maka tanaman tembakau tidak akan mengalami stagnasi akibat hujan yang turun. Selanjutnya petunjuk pengobatan atau pemupukan diberikan secara rinci dan detail oleh para petugas lapangan dari perusahaan pengelola kemitraan.
Di beberapa wilayah diakui masih banyak petani tembakau yang sangat khawatir panen akan gagal karena hujan yang turun di tengah musim tanam tembakau. Berbagai ancaman kerugian pascapanen membayangi mereka. Persoalan tersebut umumnya menimpa para petani swadaya, yakni komunitas petani di luar petani yang dibina oleh perusahaan kemitraan. Dalam konteks ini, berbagai biaya tidak terduga muncul selama dalam proses pemeliharaan tanaman, sedang petani swadaya tidak siap dengan biaya dimaksud.
Bagi pengamat pertembakauan sekaligus pelaku bisnis tembakau virginia Lombok, Kuswanto Setyo Budi yang dihubungi mengemukakan, petani yang mandiri yakni petani yang siap menghadapi segala macam tantangan dalam budidaya tembakau virginia . ‘’Petani yang cerdas itu tidak hanya siap dengan segala risiko sejak pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman sampai pengomprongan, tetapi juga siap dengan semua keuntungan yang akan diperoleh pascaproduksi,’’ katanya.
Bagi Kuswanto yang juga Station Manager PT Sadhana Arifnusa ini, petani tembakau virginia , karena kenyang dengan pengalaman budidaya tembakau, dewasa ini dan sampai kapan pun siap menghadapi perubahan cuaca. ‘’Saat ini sebagian besar petani tembakau kita tidak akan gelisah dengan perubahan iklim, kapan pun hujan turun,’’ katanya. Sebab segera setelah itu, teknologi pemeliharaan tanaman dilakukan dengan intens oleh petani.
‘’Petani mana pun tidak akan pernah berharap merugi setiap akhir musim panen tembakau. Karena teknologi pengolahan lahan dan pemeliharaan tanaman, hingga pengomprongan tetap dilakukan dengan disiplin,’’ ucapnya. Dia khawatir mereka yang bersuara miring, termasuk khawatir akan bayangan kerugian petani tembakau di akhir musim panen tersebut justru sebenarnya tidak melakukan budidaya tembakau virginia . ‘’Petani yang sesungguhnya tentu berada di sawah, dan saat ini tengah memelihara tanaman tembakaunya,’’ demikian Kuswanto. (038)