suarantb
 
RedaksiIklanArsipHalaman UtamaHari Ini
Rangkaian HUT Bank NTB ke 46
Manifestasi Rasa Syukur, ISBANDA Bantu Dunia Pendidikan
 
updated: Senin 12/07/10

BANTUAN PAKET : Pengurus ISBANDA Provinsi NTB, berfose bersama usai serah terima bantuan paket buku kepada 10 sekolah SMP dan SMA se Kota Mataram, di Aula Bank NTB Kantor Cabang Mataram, Jumat (9/7) lalu.

 




Usia Bank NTB yang ke 46 tahun bukanlan usia muda. Menyambut hari jadinya yang jatuh pada 5 Juli 2010 lalu, manajemen Bank NTB kembali mempertegas visi, misi, dan nilai budaya perusahaan. Manifestasi atas rasa syukur di hari jadinya, berbagai agenda bernuansa kekeluargaan dan harmonisasi baik intern maupun ekstern digalang oleh manajemen. Seperti apa pelaksanaannya?

SEGENAP Direksi Bank NTB dan mantan Direksi Bank NTB duduk bersila, bertemu lutut, di halaman kantor pusat Bank NTB, Kamis (8/7) malam lalu. Aroma kekeluargaan kental terasa manakala mantan Direksi Bank NTB termasuk yang non muslim pun, ikut mendengarkan lantunan Surat Yasin, zikir dan doa yang dirangkai dengan Tausiyah yang dibawakan H. Muchtar Majdi.

Dari kalangan mantan direksi, hadir mantan Direktur Utama (Dirut), H. Jalal, mantan Dirut, H. Umar Yusuf dan H. Rachiman, mantan Direktur Pemasaran, I Made Mantra (beserta keluarga), mantan Dirum, H. Shendy Saleh, mantan Dirkep, Yanu Hanugrah, serta beberapa mantan direksi yang sejak lama menjabat. Kehadiran mantan direksi itu, kontan membuat direksi baru sumringah, diliputi keceriaan. Betapa tidak, Dirut Bank NTB, H. Komari Subakir, Dirpem, H. Hery Budi Santoso dan Dirkep, H. Toto Suharto, sejak awal menjabat berpesan, betapa urgennya memelihara hubungan kekeluargaan di kalangan karyawan dan mantan karyawan, yang notabene merupakan keluarga besar di bawah panji Bank NTB.

Usai Tausiyah, jajaran Direksi Bank NTB dan mantan Direksi Bank NTB menyerahkan santunan kepada 50 anak yatim piatu dalam bentuk uang tunai. Santunan serupa juga diserahkan oleh Ketua Umum Ikatan Istri Bank Daerah (ISBANDA) Provinsi NTB, Ny. Dra. Hj. Pudji Isdriani Komari Subakir, kepada 27 janda mantan karyawan Bank NTB.

Pentingnya menjaga hubungan silaturrahmi teraplikasi pula pada program yang disusun Panitia HUT. Minggu (11/7) kemarin, segenap direksi dan karyawan Bank NTB (kantor pusat) menggelar family gathering di Hotel Sentosa Senggigi, Lombok Barat. Dalam sejarah Bank NTB, family gathering ini merupakan yang pertama kalinya. Nuansa serupa juga amanatkan untuk diaplikasikan kepada seluruh kantor cabang Bank NTB se NTB.

Sebagai wujud rasa syukur, Bank NTB menunjukkan perhatiannya bagi dunia pendidikan di NTB. Kepedulian sosial terhadap dunia pendidikan ini terimplementasi melalui penyerahan paket buku oleh ISBANDA Provinsi NTB kepada 10 sekolah (5 SMP dan 5 SMA) se Kota Mataram.

Bagi Ketum ISBANDA Provinsi NTB, Ny. Dra. Hj. Pudji Isdriani Komari Subakir, keputusan penyerahan bantuan berupa buku dilatarbelakangi oleh dukungan terhadap program pemerintah daerah dalam memajukan pendidikan. Kepedulian ini berkorelasi pula dengan Pidato HUT ISBANDA Provinsi NTB pada 10 Juni lalu, yang mengangkat Tema “Meningkatkan Minat Baca”. ISBANDA mempunyai prinsip bahwa dunia pendidikan tidak lepas dari buku – sebagai sumber ilmu, dan buku sebagai ‘Jendela Dunia’.

“Kami memaklumi dan mendegarkan, bahwa pemerintah daerah di NTB mencanangkan untuk meningkatkan minat baca pelajar, baik dari kalangan SD, SMP hingga ke Perguruan Tinggi. Kita juga tahu, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dibanding dengan negara maju maupun negara-negara Asia. Di Asia, minat baca negara Jepang barangkali patut diacungi jempol,” ungkap Pudji.

Menurut sosok guru SMAN 26 Jakarta yang kerap menjadi narasumber di TV Edukasi (TVE) ini, pengamatan dan observasi di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan, perpustakaan sekolah masih mengalami kendala minim buku. Ironinya lagi, dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) di salah satu sekolah di Pulau Jawa, antara 9 sampai 10 ruang kelas, siswanya tidak lulus mata pelajaran Bahasa Indonesia. Berdasarkan pengalaman dan apa yang dilihat di daerah itulah, ISBANDA Provinsi NTB memberi perhatian bagi dunia pendidikan.

Dalam pemberian paket ini, ISBANDA memformulasikan bantuan buku pada kategori, buku pelajaran, buku agama, fiksi (cerpen dan novel), kamus dan Atlas. Untuk sekolah SMP, orientasi bantuan buku lebih mengarah kepada buku bacaan dan kamus, dan sekolah SMA lebih berorientasi ke buku pelajaran.

“Melihat ketatnya persaingan untuk lulus UAN maupun mendaftarkan diri masuk di Perguruan Tinggi, kebiasaan membaca sangat mempengaruhi anak-anak kita untuk belajar. Anak-anak yang senang membaca, secara otomatis akan senang belajar. Jangan lupa, kebiasaan membaca akan membuat anak untuk berpikir secara kritis,” paparnya.

ISBANDA mengakui, bantuan buku pelajaran ini masih belum maksimal dan belum merata ke berbagai sekolah di NTB. Kendati demikian, ISBANDA memprogramkan peduli dunia pendidikan ini sebagai salah satu agenda untuk dilaksanakan di masa yang akan datang. Orientasi program ini tidak lepas dari peran sosok Ketum yang istri Direktur Utama, Komari Subakir, yang begitu kritis terhadap dunia pendidikan di NTB.

Nilai paket yang diajukan ISBANDA NTB berjumlah Rp 6.875.000. Selain paket ke sekolah, kepedulian terhadap anak-anak pegawai Bank NTB yang kurang mampu juga mendapat alokasi bantuan buku dan ATK. Sedikitnya 30 anak dibantu dalam program ISBANDA kali ini. Dari rincian itulah, total anggaran yang disetujui berjumlah sekitar Rp 10 juta.

Sejak awal mengkonsep program, Ketum ISBANDA berangan-angan realisasi program bantuan paket buku dapat mencapai 30 sekolah atau sekitar 290 eksemplar. Namun karena keterbatasan anggaran, pihaknya pun hanya dapat memenuhi kuota 10 sekolah dengan jumlah 210 eksemplar.

‘’Tahap awal ini, kita memang baru bisa menganggarkan 10 sekolah yang ada di Kota Mataram saja. Ke depan, kita harapkan bisa menyentuh ke sekolah-sekolah yang ada di pelosok. Apresiasi yang kami terima dari penerbit yang kami hubungi, merekomendasikan agar bantuan tidak hanya di Kota Mataram saja. Ibu-ibu ISBANDA di Kantor Cabang juga mengusulkan agar bantuan dapat menyebar ke kabupaten lain termasuk ke Pulau Sumbawa,” terangnya.

Sebagai praktisi pendidikan, Ny. Pudji memandang perlunya menata kembali minat baca pada diri anak. Muara dari minat tersebut dapat bersumber dari peran ibu dalam keluarga, peran sekolah dalam menyediakan perpustakaan yang memadai, dan tercukupinya ketersediaan buku pelajaran dalam jumlah dan variasi.

‘’Apabila perpusatakaan sekolahnya nyaman, variasi buku yang dibutuhkan banyak, siswa jadi betah untuk membaca. Namun siswa sekarang, kadang-kadang hanya akan ke perpustakaan kalau diminta oleh gurunya mengerjakan tugas. Untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai dari keluarga. Biasakan anak-anak membaca sejak kecil. Sekalipun membaca komik dulu, tidak apa-apa, yang penting minat bacanya tumbuh dulu,” ujar Pudji berbagi tips.

Apresiasi sekolah penerima bantuan buku demikian besarnya. Pihak Kepala Sekolah bahkan berasumsi, apabila seluruh instansi di NTB, mulai dari SKPD, BUMN dan lembaga swasta bersama-sama menopang dunia pendidikan melalui bantuan paket buku, maka kekurangan literatur sekolah di NTB akan dapat terisi. Rak-rak perpustakaan tidak akan kosong atau terisi dengan literatur lama.

“Andaikata semua instansi seperti Ibu-Ibu di ISBANDA Provinsi NTB memberikan bantuan buku, akan sangat luar biasa. Untuk itu, kepada Ibu-Ibu ISBANDA, saya acungkan jempol atas program bantuannya,” aku Kepala Sekolah SMA 6 Mataram, L. Abdul Hamid.

Abdul Hamid mengakui, siswanya yang berada di lingkup SMA 6 Mataram, masih kekurangan buku-buku pelajaran. Masalah tersebut bertambah akut manakala dihadapkan pada kondisi ekonomi siswanya, yang menurut klasifikasi pihaknya, setengah dari jumlah siswa tergolong miskin.

Senada dengan L. Abdul Hamid, Kepala Sekolah SMPN 1 Mataram, Ishaka, tidak menampik betapa berartinya bantuan buku dari ISBANDA. Kendati memang jumlahnya tidak begitu besar, namun perhatian ini menjadi motivasi bagi sekolah. Ia pun berharap, dukungan serupa akan mengalir ke sekolah-sekolah baik dari ISBANDA maupun instansi lain dalam jumlah lebih banyak lagi.

“SMP Negeri 1 Mataram sebagai sekolah menengah yang paling lama berdiri masih membutuhkan bantuan buku-buku. Paket bantuan ini kami rasakan sangat berarti, dan mudah-mudahan, ke depannya kami masih akan diikutsertakan oleh ISBANDA,” harap Ishaka. (joe/*).

@Copyright Suara NTB