suarantb
 
RedaksiIklanArsipHalaman UtamaHari Ini
Pengembangan Kacang Tanah Terkendala Lahan
 
updated: Sabtu 26/06/10

Mataram (Suara NTB)
Kacang tanah menjadi salah satu komoditas yang fokus akan dikembangkan selain aapi, jagung dan rumput laut (PIJAR). Potensinya yang cukup besar, terutama di lahan kering yang mencapi ratusan ribu hektar. Persoalannya, pengembangan kacang tanah menghdapi dilema, sebab hingga kini komitmen pengembangannya masih terkendala lahan. Di sisi lain, banyak lahan menganggur terutama lahan yang Hak Guna Usahanya (HGU) masih dipegang oleh investor lama.

“Di Dompu misalnya, potensi lahan yang terbengkalai oleh pemilik HGU cukup luas. Lahan dikuasai investor tetapi tidak optimal digunakan. Sementara investor yang serius seperti Garuda belum memperoleh lahan yang cukup,” ungkap Koordinator Smallholder Agribusiness Development Initiative (SADI) NTB, Giri Arnawa, Jumat (25/6) kemarin.

Garuda disebutkan Giri meminta sedikitnya 3.000 hektar lahan (kering). Jumlah tersebut akan dipergunakan sebagai lahan inti (pembibitan) dan lahan plasma (produksi). Giri bahkan menilai terlalu muluk angka 3.000 hektar tersebut, sebab sepertiga dari angka tersebut (1000 hektar) saja, akan sangat berarti bagi pengembangan kacang tanah di daerah.

“Janganlah 3.000 haktar, itu mungkin terlalu muluk. Seribu hektar saja untuk investor yang serius seperti Garuda atau berapa saja yang ada, akan sangat mendukung. Perusahaan bisa melalui sewa pakai, operasional full kontrol untuk pengembangan benih, sehingga petani bisa mensuplai ke pabrik,” katanya.

Komitmen perusahaan untuk menciptakan nilai tambah kacang tanah sudah terlihat. Di Jembatan Kembar, Lembar, Lombok Barat, Garuda sudah memasuki tahap persiapan Amdal (analisisi mengenai dampak lingkungan) untuk membangun pabrik.

Pabrik ini lanjut Giri, siap menampung berapapun produk petani secara kontinu. Serapan per harinya mencapai 70 sampai 100 ton per hari. Awalnya petani NTB hanya mampu menyuplai antara 15 – 30 ton per hari, namun berkat dukungan dari berbagai pihak termasuk Pusat Peneliti dan Pengembangan Lahan Kering Tropika (P3LKT) asuhan Prof. Suwardji dan kajian lembaga lain seperti Bank Indonesia, suplai meningkat menjadi 30-40 ton sehari.

Menurut Giri, angka suplai tersebut masih dapat didorong dengan catatan tersedianya lahan bagi perusahaan melakukan budidaya. Ia juga optimis, dengan fasilitasi Dinas Pertanian NTB mengalokasikan Sekolah Lapang Pengelolaan Terpadu seluas 3.600 hektar, dapat mendorong suplai ke pabrik. Giri melihat dengan keseriusan investor membangun pabrik di daerah, nilai tambah yang diidam-idamkan akan tercapai.(joe).

@Copyright Suara NTB