H Rosiady Sayuti (Suara NTB/dok)
KEPALA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Dr. Ir. H Rosiady Sayuti, MSc., menampik persoalan adanya indikasi perubahan orientasi atas perubahan akronim AKINO (Angka Kematian Ibu Menuju Nol). Perubahan “Angka Kematian Ibu Nol,” menjadi angka kematian ibu dan anak menuju nol menurutnya hanya untuk memperhalus istilah saja.
Hal itu dipaparkan Kepala Bappeda NTB menjawab Suara NTB saat ditemui di Mataram, Sabtu (12/6). Rosiady menyatakan, istilah yang digunakan saat ini tidak ada hubungannya dengan konsep awal gerakan menurunkan angka kematian ibu dan anak menjadi nol. “Sama saja sebenarnya, sama-sama menuju nol,” ungkapnya.
Salah satu program unggulan yang terangkum dalam sebuah gerakan yang dinamai gerakan 3 A (AKINO, ABSANO dan ADONO) itu untuk memberikan semangat kerja. Mewujudkan NTB bebas dari angka kematian ibu dan anak.
Dari informasi yang diperoleh, angka kematian ibu dan anak terus diturunkan, saat ini mencapai 92/93.102 kelahiran hidup. Dari tiga capaian menuju nol tersebut, AKINO paling mudah bisa dicapai. Karena sebagian besar desa dan kelurahan sudah mulai menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Paling sulit dari gerakan 3A tersebut adalah mewujudkan Angka Buta Aksara Nol (ABSANO). Pasalnya sampai saat ini masih banyak usia diatas 15 tahun ke atas yang masih buta aksara. Terlebih banyak kendala yang dihadapi pada saat pelaksanaan gerakan ABSANO, antara lain dari segi fisik orang tua yang dibelajarkan.
Sementara untuk angka dropt out nol (ADONO) dirasa saat ini sudah mulai menurun. Di sebagian besar madrasah sudah banyak yang menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Penduduk-penduduk desa sudah banyak yang nol angka DO-nya. (rus)
|