Nanang Samodra (Suara NTB/ist)
KEKALAHAN dalam Pilkada bukanlah akhir dari segalanya. Jika masih
ingin mengabdi pada kepentingan masyarakat, semua kandidat yang tampil
dalam Pilkada, masih bisa berbuat banyak tanpa harus terpilih
sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah. Para elite politik
sebaiknya memberikan contoh yang baik bagi masyarakat agar mereka
tetap menjadi panutan.
“Kita harus bisa menerima bahwa the game is over, sekarang tinggal
bagaimana membangun lagi,” ujar anggota Komisi II (Bidang Pemerintahan
Dalam Negeri, Aparatur Negara, Otonomi Daerah, Agraria), Ir. Nanang
Samodra, KA, M.Si, kepada Suara NTB, Kamis (10/6) kemarin.
Nanang sendiri sebelumnya pernah mengecap kekalahan di Pilkada NTB
tahun 2008 lalu. Namun, meski kalah di Pilkada, Nanang tetap bisa
mengabdikan diri melalui jalur legislatif. Menurut Nanang, setiap
kekalahan bisa saja dimaknai sebagai sebuah kemenangan yang tertunda.
Masyarakat, menurutnya juga tidak perlu terprovokasi dengan hasil yang
diperoleh oleh calon yang didukungnya.
Ia menilai, selama proses Pilkada dijalankan sesuai aturan, maka
tidak ada alasan untuk menolak hasilnya. Untuk menjaga stabilitas, ia
mengimbau agar pasangan calon yang menang tidak larut dalam euforia.
Sebaliknya, mereka yang kalah juga tidak perlu bersedih atau
mengekspresikan kekalahan dengan cara yang merusak.
Nanang juga mengaku khawatir melihat kondisi di Kabupaten Bima.
Apalagi, di daerah itu sudah terjadi aksi yang merusak bangunan fisik
yang ada. Menurutnya, kejadian itu menggambarkan adanya ketidakpuasan
yang tidak disalurkan secara bijak. Ia menilai, rendahnya partisipasi
pemilih juga tidak bisa menjadi alasan untuk menolak
hasil Pilkada.
Sebagai contoh, adalah Pilkada di Riau. Di sana, tingkat
partisipasi masyarakat hanya mencapai 50,1 persen. Karenanya, tingkat
partisipasi pemilih dalam Pilkada di NTB sebenarnya sudah cukup
tinggi. Di Kota Mataram, tingkat partisipasi pemilih bisa mencapai
kisaran 70 persen.
Proses pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat, yang digelar baru – baru
ini, menurut Nanang juga patut dijadikan referensi dalam menyikapi
hasil dari sebuah suksesi. “Semua mengagumi proses itu,” tandasnya.
(aan)