Awanadhi Aswinabawa (Suara NTB/dok)
KETUA Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Awanadhi Aswinabawa mengaku tidak bisa sendiri melaksanakan Tourism Indonesia Mart and Expo (TIME) yang dijadwalkan akan kembali digelar di NTB tahun 2010. Even berskala internasional itu menurut Awan membutuhkan banyak perangkat dalam mengoperasikan pelaksanaan TIME.
Hal itu disampaikan Awan menjawab Suara NTB di Mataram, Kamis (3/6) kemarin. Menurut Ketua DPD ASITA NTB ini, kisruh dana TIME 2009 yang sedang ditangani Kejaksaan yang menjadi penyebab. Menurutnya, terjadinya polemik soal TIME 2009 itu mengganggu kredibilitas panitia pelaksana. “Bagaimana bisa bekerja dengan baik,” katanya.
Dipersoalkannya dana TIME 2009 secara hukum dipandang Awan tidak menjadi masalah dan tidak mengganggu. Hanya saja, ketidakjelasan status hingga sekarang membuat ia khawatir kalau saja pelaku wisata yang dulu sukses menggerakkan TIME 2009, enggan kembali menggelar hal serupa itu. Padahal 2010 ini telah terjadwal NTB kembali akan menjadi tuan rumah.
“Kalau ada pelanggaran bilang ada pelanggaran, kalau tidak ada tolonglah hentikan,” pinta Awan yang juga mantan Ketua Organizing Committee (OC) TIME pertengahan Oktober 2009 lalu.
Menurutnya, pada saat pelaksanaan TIME 2009, panitia sudah bekerja maksimal. Hal itu disadari karena even TIME sebagai ajang memajukan pariwisata NTB. Dengan dipersoalkannya TIME 2009 itu, diyakini Awan para pelaku wisata yang telah bekerja habis-habisan jadi kapok. Sehingga dikhawatirkan, TIME 2010 tidak bisa digelar.
Padahal, melihat dampak positif pasca TIME digelar dinilai Awan sudah cukup besar. Harapannya, para pelaku wisata yang sudah all out bekerja ini tidak diobok-obok. “Kami mohon izin kepada masyarakat dan pemangku amanah, biarkan kami bekerja,” pintanya.
Ditambahkan, terhadap rencana pelaksanaan TIME 2010 yang tinggal hitungan bulan, kalau jajaran BPPD mau dikhawatirkan yang membantu, yakni para pelaku wisata yang sudah kecewa berat dengan ditarik ulurnya persoalan TIME 2009 bisa menjadi ancaman. “Kalau kita mau belum tentu mereka (para pelaku wisata-red) mau,” imbuhnya. (rus)