Prof. Dr. Ir. Suwardji (Suara NTB/dok)
ANOMALI iklim yang terjadi tahun 2010 ini, tidak pernah terjadi sebelumnya. Tahun 2010 ini, ketimpangan perubahan iklim sangat ekstrim. Anomali iklim siklus tiga tahunan ini tidak hanya menimbulkan gagal panen hingga puso tetapi juga mengancam produksi tembakau Virginia Lombok.
Kekhawatiran ini disampaikan, Prof. Dr. Ir. Suwardji, Ketua Pusat Penelitian Lahan Kering Universitas Mataram (Unram) kepada Suara NTB Rabu (26/5) kemarin. Menurut dia, normalnya, memasuki bulan Mei ini dikenal dengan sebutan musim kemarau (MK) I. Musimnya tanam tembakau Virginia.
‘’Tapi sekarang turun hujan. Jika hujan ini sampai Juni-Juli maka tembakau bisa mengalami kerusakan,’’ jelas Dosen Fakultas Pertanian Unram ini. Tanaman tembakau merupakan jenis tanaman yang tidak tahan air, tapi tetap membutuhkan air. Hujan yang berlebih, akan membuat tanah tergenang dan itu berpengaruh pada tanaman tembakau. Kalau sampai terendam dalam beberapa hari, tembakau bisa rusak.
Hujan di musim kemarau ini lanjut Suwardji jika benar-benar sampai pada pertengahan tahun ini, kepada para petani tembakau disarankan untuk menunda proses tanam. Antisipasi jangan sampai terjadi gagal panen. Terlebih diketahui, menanam mayoritas petani dengan berutang.
Tidak saja tembakau, tanaman jenis palawija lainnya pun dianggap bisa terancam kualitas dan kuantitas produksinya. Jagung contohnya, April-Mei ini waktunya panen. Seperti keadaan di utara (KLU) kata Suwardji, kondisi hujan yang terus menerus membuat tanah lembab, kualitas produksi pun menurun. Tanaman kedelai juga jika terlalu banyak air bisa rusak.
Persoalan yang muncul di tengah anomali iklim ini disarankan untuk lebih dicermati. Perlu ada perubahan pola pikir. Terlebih, 2006 diakui terjadi hal yang sama, namun tahun 2010 ini dianggap jauh lebih parah.
Mengatasi hal itu, disarankan Suwardji, pentingnya menerapkan teknologi sederhana, membuat drainase di sekitar tanaman. Di wilayah selatan utamanya, yang tekstur tanahnya jenis malit perlu dirubah pola tanamnya. “Jangan pakai pola yang lama,” sarannya. (rus)