H. M. Syareh, SH. (Suara NTB/joe)
BANK NTB yang dikenal sekarang, rupanya tidak lahir (baca: beroperasi) begitu saja dengan modal besar. Sebagaimana Peraturan Bank Indonesia (PBI), No.9/16/PBI/2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/15/PBI/2005 tentang Jumlah Modal Inti Minimum Bank Umum, syarat untuk membentuk Bank Umum (termasuk BPD) minimal menyetorkan modal inti minum sebesar Rp 100 miliar. Dominan masyarakat NTB pun, barangkali tidak pernah membayangkan bila Bank NTB dengan aset di atas Rp 1 triliun saat ini, ternyata didirikan dengan modal hanya Rp 20 juta saja. Seperti apa kiprah bank yang oleh direksi baru diobsesikan sejajar dengan bank nasional ini?
Terbentuknya Bank NTB, tidak lepas dari hasrat Gubernur NTB pertama, Gatot Suherman ketika itu. Gatot lantas memberi mandat kepada HM.Syareh, SH., yang kemudian didaulat sebagai Presiden Direktur BPD NTB. Syareh yang pada Januari tahun 1963 menyelesaikan studi Hukum Perdata di Universitas Gajah Mada, menghadap ke Gubernur pada 5 April 1963, dan pada 8 April 1963 ia ditugaskan sementara. Amanat yang notabene di luar keilmuan yang diperolehnya di bangku kuliah, memaksanya untuk bersekolah kembali.
Tidak lama setelah mendapat mandat, HM. Syareh yang tidak lain Paman Gubernur NTB, TGH.M. Zainul Majdi, MA. ini, kemudian melengkapi AD/ART BPD, di mana di dalamnya tertuang kebutuhan dana BPD minimal 20 persen atau Rp 20 juta dari utang yang diperbolehkan.
Ketika itu pula, Bank NTB praktis beroperasi layaknya usaha keluarga. Dengan modal seadanya, SDM pun terbatas dengan hanya satu orang pegawai yang bisa mengutak-atik mesin tik (disebut namanya, Yusuf Efendi). Tugas berat yang dibebankan di awal terbentuknya, Bank NTB diamanatkan untuk mengatasi persoalan Tunjangan Darurat Santunan Pangan (TDSP), yang mana NTB saat itu dihadapkan pada situasi kesulitan pangan. Alih-alih mampu beroperasi atau menangguk untung layaknya bisnis berorientasi profit, Bank NTB justru bangkrut hanya dalam tempo 6 bulan.
“Meskipun bangkrut, namun saya tidak patah semangat. Dengan sepeda ontel yang saya bawa dari Jawa, bayangkan dulu seorang Presiden Direktur BPD hanya memakai sepeda ontel, saya berkeliling mencari pinjaman,” aku Syareh dalam silaturrahmi dengan Manajemen Bank NTB, di kediamannya belum lama ini.
Berkat lobinya, Syareh pun memperoleh pinjaman dari Bank ’46 (kini BNI) sebesar Rp 60 juta, dengan tingkat bunga sebesar 6 persen per tahun selama 6 tahun. Dana itu kemudian dibelikan peralatan kantor. Dari nominal itu, dana yang tersisa hanya Rp 80 ribu. Dalam kondisi itu, Syareh bahkan tidak sempat memikirkan berapa gaji yang pantas ia terima, apalagi menggaji karyawan. Sebaliknya, Syareh justru merasa harus mengencangkan “ikat pinggang”. Konsekuensinya salah satu pegawai bernama Mustakim dikeluarkan. Pelan namun pasti, pada April tahun 1967 atau sekitar 3-4 tahun beroperasi, Bank NTB baru membukukan laba. Nominal labanya tidak disebutkan, namun diakui sangat kecil dibanding nilai pinjamannya.
‘’Setelah 10 tahun beroperasi, saya minta diberhentikan. Tetapi cikal bakal besarnya Bank NTB sudah saya tanamkan. Ketika itu saya melihat, potensi NTB dari darat, laut, udara, sektor pertanian hingga pendidikan potensial menghasilkan uang bagi daerah. Termasuk pos dana daerah yang di BRI, juga saya minta dipindahkan ke Bank NTB. Dari sini, mulailah Bank NTB besar,” terang Syareh.
Lantas seperti apa sesepuh Syareh melihat logo perubahan yang digalang direksi baru kali ini? “Saya bersyukur dan bangga, hanya dalam tempo 4 bulan saja, direksi sudah punya gambaran baru untuk memajukan Bank NTB. Saya melihat, bukan sekadar perubahan logo, tetapi banknya yang dirubah,” puji Syareh.
Ia berpesan, segenap pegawai dari level low (first line), midle dan top mangement, untuk menyadari kembali misi dan visi Bank NTB. Sebagai lembaga kepercayaan, kejujuran dalam pelayanan merupakan pangkal keselamatan. “Prinsipnya, setiap pekerjaan memerlukan dedikasi yang tinggi tetapi tetapkan kejujuran yang utama. Hanya saja, prinsip kejujuran sekarang sepertinya mulai bergeser. Kalau dulu, jujur itu normal, zaman sekarang jujur abnormal. Pemborong saja, kalu jujur bakal bangkrut,” selorohnya.
Terhadap prinsip yang dipegangnya itu, Syareh bukan berarti mendiskreditkan loyalitas para karyawan saat ini. Ia menegaskan, andai kata sebuah pembangunan dilaksanakan secara jujur dan dikawal bersama, maka hasilnya akan lebih baik lagi. “Mudah-mudahan apa yang menjadi ikhtiar Pak Komari (dimaksud, Dirut Bank NTB, H. Komari Subakir, red) akan berhasil. Tetapi bagaimanapun, sebuah perubahan membutuhkan evaluasi. Setidaknya perubahan yang sekarang ini, perlu dinilai kembali (misalnya) dalam 5 bulan ke depan, seperti apa hasilnya,” ungkapnya meyakini dalam 5 tahun ke depan, bank daerah ini akan mampu sejajar dengan bank nasional asal dikelola secara jujur.
Bagaimanapun, di era teknologi dan informasi saat ini, dua aspek yakni man and machine akan saling ketergantungan. Pelayanan yang baik bergantung pada perlengkapan yang baik, namun kinerja sebuah mesin akan sangat bergantung pada orang. “Saya sarankan, tolong sediakan kotak pengaduan untuk konsumen, dan yang kedua, tolong perhatikan bagian kredit, bagian umum dan bagian kepegawaian,” demikian Syareh, menegaskan tiga bidang yang dirasakannya menjadi titik lemah Bank NTB. (joe)