Hj. Rabiatul Adawiyah Zainul Majdi, SE (Suara NTB/dok)
POLA konsumsi masyarakat yang dominan pada bahan beras dan terigu diakui sangat sulit diubah. Padahal, masyarakat dinilai sudah mengetahui pola konsumsi itu kurang tepat. Namun, masyarakat tidak mau belajar.
Demikian penilaian Ketua Tim Penggerak PKK, Hj. Rabiatul Adawiyah Zainul Majdi, SE kepada Suara NTB seusai membuka acara pelatihan pengolahan pangan beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA), Sabtu (22/5).
Dijelaskan, pangan lokal sangat bisa memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Produk pangan lokal yang tidak terlalu mahal bisa menjadi pangan yang bagus bagi masyarakat. Saat ini, mengurangi konsumsi beras dan terigu merupakan keharusan, karena nilai impor cukup besar. “Di sekeliling kita banyak yang bisa kita kelola,” imbuhnya.
Konsumsi beras menurut istri orang nomor satu di NTB ini, masih sangat tinggi. Sebesar 121,7 kg perkapita pertahun. Mencermati hal ini, PKK bersama jajaran Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi NTB tetap akan berusaha mengubah kebiasaan masyarakat tersebut.
Terhadap masih tingginya impor terigu diakuinya tidak bisa dihentikan. Namun demikian, akan dilakukan dengan cara mengurangi ketergantungan. Buat mie misalnya, bisa saja dengan bahan lokal, dari ubi atau bahan lokal lainnya. Hanya saja memang akan dibenturkan pada persaingan pasar.
Persaingan itu terang istri Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi, MA ini menjadi tantangan. Melatih para ibu-ibu mengolah pangan B2SA adalah salah satu cara menuju tantangan persaingan. Para ibu-ibu yang menjadi peserta pelatihan diharapkan bisa menularkan pengetahuannya ke yang lain. Pengetahuan mengolah pangan ini diharapkan dapat tercipta jiwa usaha baru. Usaha mengembangkan pangan lokal. (rus)