Mataram (Suara NTB) –
Puluhan biro perjalanan wisata yang tergabung dalam Association of Indonesia Tours and Travel Agency (ASITA) NTB dan pemandu wisata (guide) yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTB menilai sejumlah objek wisata NTB belum memenuhi standar. Wal hasil, HPI pun kesulitan menjual objek wisata NTB ke dalam sebuah produk wisata.
Demikian diungkapkan, Sekretaris ASITA NTB, Drs. Agus Mulyadi, kepada wartawan seusai meninjau sejumlah obyek wisata di kawasan Senggigi, Lingsar, Narmada dan Banyumulek, Jumat (21/5) kemarin.
Agus mengatakan, para biro perjalanan dan guide telah mengadakan peninjauan ke sejumlah objek wisata itu dalam rangka menyusun paket wisata 2010. Dari tinjauan itulah nantinya, akan diformat sebuah paket wisata dari rute hingga harganya.
Penilaian HPI dari tinjauan itu pula, kawasan Lingsar disebut-sebut sering menjadi destinasi wisata masih perlu mendapat penataan serius. Beberapa diantaranya menyangkut persoalan kebersihan, guide lokal, fasilitas umum , tempat parkir, serta pelayanan dari pengelola setempat.
“Kurangnya penataan membuat kawasan Lingsar terkesan seperti objek wisata tak terurus, dan dikhawatirkan mengundang ketidakpuasan wisatawan yang akan berkunjung,” ungkap Agus.
Agus berpandangan, belum terpenuhinya standar objek wisata yang menjadi destinasi wisata membuat paket wisata itu kurang menarik untuk dijual. Sebaliknya, pelayanan yang diberikan kerap mendapat komplain dari para wisatawan. ‘’Diperlukan upaya serius dalam melakukan penataan objek wisata, sehingga objek wisata itu layak untuk dikunjungi dan ditawarkan dalam sebuah paket wisata andalan,’’ tandasnya.
Selain itu objek wisata Banyumulek, Lobar yang menjadi pusat kerajinan tangan gerabah juga menjadi perhatian serius PHI. Agus mensinyalir, destinasi pusat kerajinan Banyumulek perlu sebuah inovasi baru dalam menarik minat dan perhatian wisatawan.
Selama ini, wisatawan yang datang ke Banyumulek, langsung diantar ke gallery dan melakukan transaksi jual beli. Ke depan inovasi baru yang diinginkan, yakni adanya sebuah audio visual di depan gallery. Ketika wisatawan baru tiba, pengelola Banyumulek bisa memutar video bagaimana proses pengambilan tanah liat dari gunung yang begitu sulit, pembuatan, pembakaran hingga finishing pembuatan gerabah. Visualisasi ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, sehingga mereka tidak bosan berkunjung ke Banyumulek.
Agus juga menyorot masih timpangnya perlakuan terhadap objek wisata antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Paket wisata ke Pulau Sumbawa dinilainya masih sangat terbatas. Beberapa faktor yang menyebabkan, seperti minimnya penerbangan ke Pulau Sumbawa, kondisi ruas jalan menuju obJek wisata di Pulau Sumbawa juga masih rusak parah.
Fasilitas hotel dan restoran yang kurang memadai di Sumbawa juga menjadi salah satu faktor para wisatawan enggan berkunjung ke sana. Dalam hal ini, diperlukan upaya konkrit dari pemerintah, termasuk mengundang investor untuk turut berinvestasi di Pulau Sumbawa. (joe)