H. Tri Dharma (Suara NTB/dok)
BELUM kelirnya persoalan konversi minyak tanah ke batu bara pada musim tanam tembakau tahun ini menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) Mataram. Pemimpin BI Mataram, H. Tri Dharma, bahkan menilai mitan potensial mendongkrak inflasi NTB.
‘’Belum selesainya konversi, menyebabkan minyak tanah potensial inflasi. Dengan masih banyaknya oven yang belum dikonversi, minyak tanah untuk konsumsi rumah tangga bisa langka, lantas memicu kenaikan harga,” ungkap Tri Dharma, Jumat (21/5) kemarin.
Tri Dharma memperoleh gambaran, sampai dengan Mei 2010, jumlah oven yang belum dikonversi berjumlah 10.614 unit atau berjumlah 67,3 persen. Sementara jumlah oven yang telah dikonversi mencapai 5.167 unit atau 32,7 persen.
Dengan semakin dekatnya musim tanam terhadap jumlah oven yang dikonversi, Tri berasumsi kemungkinan harga tinggi pada minyak tanah akan berlaku. Kendati demikian, seberapa besar perubahan inflasi akibat dorongan permintaan bahan bakar ini belum diperkirakan.
Selain potensial inflasi dari minyak tanah, Tri juga mengisyaratkan perlunya kewaspadaan potensi tekanan inflasi dari komoditas beras. Namun hal itu berlaku, apabila kekeringan yang melanda lahan pertanian tidak segera ditangani dengan efektif.
“Menurut keterangan Dinas Pertanian NTB, saat ini terdapat jumlah lahan pertanian yang mengalami kekeringan, termasuk mengalami puso. Oleh karena itu, perlu upaya pemerintah daerah untuk menyiapkan buffer stock yang memadai untuk komoditas bahan pangan sebagai mitigai kemungkinan distorsi sisi produksi,” ulas Tri didampingi, Deputi Pemimpin BI Mataram, Iwan Triady Agustono, Humas BI Mataram, Thomy Andreas, dan Pengawas Bank Muda Senior, Budi Saptono.
Kendati demikian lanjut mantan Pejabat KBI Surabaya ini, secara umum laju inflasi di NTB pada triwulan II ini tahun 2010 ini diperkirakan relatif stabil. Angka ramalan inflasi April-Juni ini diprediksi berada pada kisaran 4-5 persen (year on year) terhadap laju inflasi periode yang sama tahun 2009.
Penahan laju inflasi pada kurun waktu ini, menurut Tri, masih minimnya dampak El Nino (cuaca kering, red) terhadap hasil produksi pertanian dan terjaganya ketersediaan bahan makanan khsusunya komoditas sembako.
“Kondisi ini sejalan dengan hasil survai konsumen yang menunjukkan optimisme ekspektasi masyarakat terhadap penurunan harga. Membaiknya ekspektasi tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh rendahnya, realisasi laju inflasi di tahun 2009,” ungkap Tri Dharma. (joe)