I Made Mantra (Suara NTB/joe)
Logo Perubahan Bank NTB bagi sebagian orang ternyata bermakna dalam. Bagi sesepuh Bank NTB pun, logo perubahan yang diinisiasi direksi baru pada Sabtu (8/5) lalu, menyiratkan adanya perubahan yang tidak parsial, namun mengusung totalitas. Lantas apa pandangan sesepuh Bank NTB terhadap logo perubahan dan apa pula prediksinya bagi kejayaan Bank NTB di masa depan?
MANTAN Direktur Pemasaran Bank NTB, I Made Mantra, saat menerima kunjungan silaturrahmi manajemen Bank NTB di kediamannya beberapa waktu lalu, melihat hanya ada hal positif di balik perubahan ynag digagas direksi baru. Ia bahkan memuji, hanya figur yang beranilah yang mampu melakukan reformasi total di tubuh Bank NTB.
“Saya salut dengan manajemen yang mampu membuat suatu langkah berani, karena visi dan misi yang diangkat adalah tidak lagi state market (mengikuti pasar, red) tetapi menjadi leader market (pemimpin pasar, red). Untuk mengungkap itu tidaklah mudah, melainkan butuh keberanian,” papar Mantra.
Mantra berpandangan, dalam menjalankan roda bisnis sebuah lembaga kepercayaan (baca: bank), sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Aspek internal, kecenderungan sudah terlihat manakala manajemen mampu menyatukan egosentris pada diri personal karyawan bank. Sebagai start awal, ia melihat ini suatu hal yang luar biasa dan akan menggiring cita-cita stakeholder untuk mewujudkan Bank NTB menjadi bank kebanggan masyarakat NTB.
“Bagaimanapun, sebuah struktur organisasi kalau tidak kompetitif, maka harus diubah. Saya dulu pernah mengusulkan, agar Biro diganti menjadi Divisi (sudah teraplikasi, red). Biro itu mencerminkan sesuatu yang birokrasi, dan cermin kendalanya pada hal-hal yang birokratis. Divisi lebih dinamis, ia merupakan obsesi,” ungkap Mantra yang kini mengusung bisnis bank di bawah bendera BPR, Tresna Niaga ini.
Dari aspek eksternal, ia merasa sejak lama Bank NTB membutuhkan suatu lompatan (jumping). Ketika kompetitor sudah semakin banyak masuk ke NTB dengan keunggulannya masing-masing, maka Bank NTB tidak lagi hanya mengandalkan captive market (baca: nasabah yang sudah pasti, kalangan PNS, red) melainkan berorientasi ke pasar bebas.
“Lantas standing position di mana? Adanya komitmen, kemauan merubah visi, saya yakin perkara apa saja yang ingin dicapai, manajemen punya strateginya. Sebagai bagian dari keluarga besar Bank NTB, saya bangga, direksi baru telah mengcover kepentingan dari para stakeholder. Bobotnya bisnis bank sekarang tidak lagi dicaptive market, tetapi menjurus ke pasar bebas,” paparnya.
Mantra optimis, dengan skema direksi yang ia terminologikan dengan sebutan “3 in 1” menggantikan peran “Catur Warga” periode sebelumnya, perputaran roda menuju perubahan Bank NTB tinggal menunggu waktu. Perubahan itu bahkan dirasakannya akan datang tidak dalam waktu lama. Referesh empowering yang dilakukan direksi, telah membentuk pola yang selama ini diidam-idamkan stakeholder.
Terhadap logo perubahan itu sendiri, Mantra menyatakan di era sekarang ini tidak bisa hanya mengandalkan jasa seorang dukun, melainkan sebuah pola yang terinstal untuk mencurahkan pemikiran. Logo yang baru dilaunching merubah kesan terkotak-kotak menjadi lebih terbuka, mampu membangkitkan fanatisme nasabah.
“Apabila nasabah fanatisme sama logo, bisa-bisa jiwanya ada di situ. Logo mencerminkan suatu ukuran pasar. Dengan logo orang akan melihat, berpikir apa yang ada di dalamnya. Jika entitas logo saja kaku, image yang dibentuk juga pasti kaku,” terang Mantra.
“Saya menangkap makna logo perubahan Bank NTB sangat tinggi. Karena ada perubahan, maka langka-langkah yang dilakukan pasti akan lebih baik, untuk kemasalahatan orang banyak, baik intern maupun ekstern.”
Oleh sebab itu pula, Mantra berpendapat apabila ada yang merasa bahwa logo perubahan tidak koneksitas, maka hal itu keliru. Sebab dalam logo perubahan masih kental mengalamatkan “NTB” sebagai branding yang siap digaungkan di pasar bebas. Lantas merasa tersaingikah BPR, termasuk salah satu yang dioperasikannya?
“Tidak, BPR tidak merasa disaingi. Masyarakat NTB sudah semakin dinamis, media perbankan semakin banyak, sehingga makin banyak alternatif. Pada akhirnya, orang tidak lagi di patron bahwa ke bank saja sulit,” demikian Mantra.