suarantb
 
RedaksiIklanArsipHalaman UtamaHari Ini
Akibat Cuaca Buruk
 
updated: Selasa 18/05/10

AA Gede Trikumara (Suara NTB/dok)

 





KEJADIAN naas yang menimpa Boat Tropical pada Minggu (16/5) lalu ditengarai akibat cuaca di perairan NTB yang sedang tidak bersahabat. Stasiun Meteorologi dan Geofisika (SMG) Selaparang Mataram, mengidentifikasi tinggi gelombang pada hari itu setinggi 2 meter, atau bisa mencapai 3 meter di wilayah perairan lain bagian Selatan Samudra Hindia. Dalam kondisi tinggi gelombang itu, cukup membahayakan bagi perahu nelayan.

“Hari kemarin (Minggu, red), tinggi gelombang memang mencapai 2 meter. Bagi perahu nelayan, tinggi gelombang 1 meter saja sudah berpengaruh besar dan membahayakan sebenarnya. Tetapi untuk memutuskan berlayar, kembali ke pertimbangan pengemudi perahu,” ungkap Kepala SMG Selaparang Mataram, AA Gede Trikumara, di ruang kerjanya Senin (17/5) kemarin.

Trikumara memastikan, dalam cuaca yang kurang bersahabat dan krodit itu, penyelenggara transportasi laut seharusnya lebih berhati-hati. Tidak itu saja, sebagai upaya antisipasi dan kewaspadaan terhadap kemungkinan kecelakaan di tengah laut seperti yang dialami Boat Tropical, Trikumara menyarankan agar setiap perahu dilengkapi dengan kayu penyeimbang.

“Kalaupun ada kemungkinan lain sehingga memaksakan berangkat, itu kita tidak tahu. Karena kita di BMG juga tidak bisa memastikan pada jam sekian, tinggi gelombang akan berlaku sekian meter,” ucapnya.

Sementara, Trikumara menyikapi kejadian dua pesawat yang gagal mendarat di Bandara Sultan Salahuddin, Bima pada Sabtu (15/5) lalu juga tidak lepas dari faktor cuaca. Di mana tempo kejadian berlangsung pada jam yang hampir bersamaan, masing-masing sekitar pukul 10.22 WITA di Bima dan sekitar pukul 10.00 WITA untuk kejadian di Lombok.

Trikumara sendiri menerangkan, cuaca yang terjadi belakangan ini akibat pengaruh La Nina yang berdampak pada musim kemarau basah yang melanda NTB. Dalam situasi ini, pada kurun tanggal 13 dan 14 Mei lalu, intensitas hujan yang terjadi cukup tinggi.

“Pada tanggal 16 Mei lalu, kecepatan angin mencapai 20 knot (1 knot = 2 km/jam), otomatis ini akan berpengaruh pada tinggi gelombang,” ucapnya

Kepala SMG melanjutkan, terhadap gagal mendaratnya pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin, ia mensinyalir akibat cuaca. Di mana pada saat yang bersamaan, akibat musim angin timuran menimbulkan terbentuknya awan Cumulonimbus (CB) atau awan gelap. Dalam kurun waktu tertentu, awan CB memicu angin kencang, bersifat lokal yang berada di bawahnya. “Gagal mendaratnya pesawat di Bima bisa jadi karena pengaruh angin CB,” tandasnya. (joe)

©Copyright Suara NTB