Giri Menang (Suara NTB)-
Batalnya PT. Emaar Properties merealisasikan investasinya ke kawasan eks-Lombok Tourism Development Corporation (LTDC) ternyata berdampak juga pada aspek upaya peningkatan kapasitas pelaku wisata dari pemerintah pusat. Sampai saat ini, ketidakjelasan pengganti Emaar itu membuat jajaran pemerintah pusat belum berani memberikan peluang lagi bagi anak-anak yang akan didik menjadi tenaga pariwisata.
“Kita belum bisa lanjutkan,’’ terang Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) RI, Suharto, kepada wartawan di sela acara pembekalan kapasitas pelaku wisata di Hotel Jayakarta Senggigi, Jumat (30/4) kemarin.
Diakui, perkembangan dunia pariwisata di NTB menuntut tersedianya tenaga profesional dan handal di bidang pariwisata. Kekhawatiran masyarakat NTB akan kalah saing dengan daerah lain dirasakan juga oleh pemerintah pusat. Sehingga, kesempatan mendidik tenaga yang profesional pun dilakukan. Disebutkan, Suharto, sebanyak 60 orang tenaga yang berasal dari desa sekitar kawasan eks LDTC tersebut telah dilatih di salah satu perguruan tinggi Pariwisata di Bali.
Program itu telah selesai dilakukan, rencananya memang akan dilanjutkan. Namun, mengingat ketidakpastian siapa pengganti Emaar jajaran kementerian pusat belum berani melanjutkan program tersebut. Namun, ke depan, dijanjikan akan dicoba dilakukan terus, mengingat tenaga kepariwisataan sangat dubutuhkan.
Berbicara soal sektor pariwisata, terang Suharto, dalam perekonomian nasional, komoditi jasa ini ternyata merupakan penyumbang devisa keempat terbesar nasional. Devisa pada tahun 2008, senilai 7,38 juta dolar Amerika. Penyumbang devisa pertama, kedua dan ketiga masing-masing dihasilkan dari minyak, gas bumi 29,13 juta dolar Amerika, minyak kelapa sawit 12.37 juta dolar Amerika dan karet olahan 7.58 juta dolar Amerika.
Sumbangan tersebut terlihat dari angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia mencapai 6,4 juta orang atau tumbuh 12,89 persen. Nilai investasi pariwisata sebesar 5,09 persen dari total investasi nasional Rp 35,24 triliun. Lapangan pekerjaan yang dapat diserap di dunia pariwisata sebanyak 5,22 juta atau 6,81 persen dari total lapangan kerja nasional sebanyak 102,55 juta. (rus) |