Hadi Gunawan (Suara NTB/bug)
AKSI demonstrasi ribuan warga ke markas Polres dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), yang berakhir dengan bentrokkan disinyalir disusupi provokator. Hal ini berdasarkan temuan pihak Polres KSB yang melakukan pengamanan selama aksi berlangsung.
“Kami dapat memastikan ada provokator di dalam aksi itu. Karena jajaran kami terus memantau jalannya aksi bahkan sebelum aksi itu dilancarkan,” cetus Kapolres KSB AKBP Hadi Gunawan, SH., SIk saat ditemui sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Kamis (29/4) kemarin.
Ada beberapa indikasi mengapa gerakan demonstrasi itu dipastikan telah disusupi oleh provokator. Hadi memaparkan, pertama tidak adanya laporan atas aksi tersebut kepada aparat, adanya keinginan untuk melakukan pengerusakan dengan cara membakar yang dibuktikan dengan keberadaan bom molotov (botol berisi bensin), serta adanya hasutan berupa isu yang mengarah kepada SARA (Suku, Adat, Ras, Agama). ‘’Bukti fisik dan informasi anggota kami akan indikasi itu di lapangan terbukti terjadi,’’ ujarnya.
Selain itu lanjut dia, khusus terkait dugaan kasus ijazah palsu milik Dr. KH. Zulkifli Muhadli, SH., MM yang menjadi tututan tidak sama dengan realitas yang terjadi. Karena selama ini pihak polisi yang melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut tidak pernah menjanjikan kepada pihak mana pun, untuk segera meningkatkan dan menetapkan status Zulkifli selaku terlapor dari saksi menjadi tersangka dalam waktu tertentu.
“Kami (polisi) tidak pernah berjanji kepada pihak mana pun terutama kepada pihak pelapor untuk meningkatkan status tersangka kepada Zulkifli dalam waktu dekat. Tapi yang terjadi, justru itu yang beredar di tengah masyarakat yang sengaja dihembuskan oleh oknum-oknum provokator,” sesal Hadi.
Polisi sendiri masih terus mendalami motif para provokator yang menyusup dalam aksi demonstrasi tersebut. Apakah bertujuan mendorong terjadinya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ulang atau murni secara sengaja membuat kerusuhan dengan memanfaatkan momen untuk mengadu domba massa. “Kami akan terus menyelidiki dan mematau pergerakan yang terjadi di lapangan karena hal hal ini sudah meresahkan masyarakat,” tegasnya.
Hadi secara pirbadi mengaku, sangat menyayangkan dan sedih melihat massa yang telah terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu. Pasalnya massa yang berdemonstrasi adalah bagian dari masyarakat KSB yang terpaksa menjadi korban dan tameng bagi kepentingan segelintir orang saja. “Saya sedih melihat warga yang terprovokasi itu karena mereka tidak tahu apa-apa dan akhirnya hanya menjadi korban saja,” ujarnya.
Karenanya Kapolres mengimbau, kepada masyarakat KSB agar dapat menyaring informasi yang beredar secara selektif. Dan terlebih dari itu untuk tidak cepat terprovokasi dengan berbagai isu yang tidak jelas sumbernya. ‘’Kami harap masyarakat bersabar, karena kalau menyangkut kasus dugaan ijazah palsu kami sungguh-sungguh memprosesnya. Tapi yang perlu diingat azas praduga tak bersalah harus diutamakan,” pungkasnya.(bug)