Mataram (Suara NTB)-
Data 31 Maret 2010 lalu yang diperoleh Suara NTB di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, luas lahan kering mencapai di NTB 56.623 hektar (ha). Terdiri dari kering ringan 15.498 ha, kering sedang 17.648 ha, berat 12.529 dan puso seluas 10.948 ha. Terjadinya kekeringan dan puso tersebut, jika dibiarkan, bisa mengancam ketahanan pangan NTB.
Hal itu disampaikan Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi, MA, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Drs. H. Abdul Malik, MM., dalam kegiatan pelatihan penyusunan peta ketahanan pangan NTB di Mataram, Selasa (27/4) kemarin.
Dikatakan, kekeringan di NTB akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Untuk itu diharapkan, para pimpinan SKPD dapat lebih tanggap dengan situasi yang ada dan segera menyiapkan rencana aksi penanggulangan kekeringan dan dampak perubahan iklim.
Koordinasi, konsolidasi dan konsultasi kemitraan dirasa saat ini sangat dibutuhkan. Sinergitas antara lintas instansi sehingga ketika terjadi permasalahan, semua instansi terkait dapat mengambil peran terpadu dalam mengatasi kekeringan dan mengurangi dampaknya bagi masyarakat.
Dijelaskan, NTB memiliki komoditi pangan unggul yang beragam untuk mengatasi kerawanan pangan. Setiap tahun akan terjadi penambahan jumlah penduduk yang berimbas pada kebutuhan pangan. Komoditi unggulan yang dimiliki NTB, yakni sapi, jagung dan rumput laut (Pijar) bisa dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pangan.
Potensi luas lahan komuditas jagung mencapai 269 ribu ha dan hanya 55,5 ribu ha saja yang dimanfaatkan. Produktivitas jagung rata-rata 32,69 kwintal per hektar yang seharusnya bisa mencapai 5 ton per hektar. Total produksi jagung mencapai 1,3 juta ton per tahun dan jika ditingkatkan produktivitasnya, maka aka bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan impor jagung nasional. Dimana, Indonesia selalu mengimpor jagung rata-rata 1,2 juta ton per tahun.
Lahan potensial untuk komoditas rumput laut di NTB mencapai 25.883 hektar dengan total produksi 105,135 ton atau 45 persen dari target produksi. Adanya program Pijar yang akan dikembangkan akan bisa meningkatkan produksi sapi, jagung dan rumput laut di NTB. Pemprov NTB saat ini menghadapi masalah kekeringan lahan pertanian.
Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) NTB, Ir. Hj. Husnanidiaty Nurdin, MM. menambahkan, salah satu upaya yang dilakukan jajaran BKP, sebagai instansi terkait dalam mengatasi persoalan pangan adalah membuat peta ketahanan dan kerentanan pangan.
Peta ketahanan pangan itu menggambarkan, lima kabupaten di NTB termasuk dalam 100 kabupaten paling rentan pangan. Hal itu berdasar Indeks Ketahanan Pangan Komposit.
Kelima kabupaten itu, yakni Lobar, termasuk KLU pada urutan 42 dari 346 kabupaten di Indonesia dengan prioritas dua (merah). Selanjutnya ada empat kabupaten dengan prioritas tiga (merah muda), yakni Lombok Tengah (Loteng) urutan ke 65, Lombok Timur (Lotim) urutan 69, Dompu urutan 73 dan Bima urutan 86. Kelima daerah tersebut perlu mendapat prioritas dana pembangunan agar kondisinya lebih baik. (rus)