Selong (Suara NTB)-
Pemerintah pusat memberi angin segar atas rencana Pemkab Lombok Timur (Lotim) menjadikan Gili Sunut, daerah Lotim bagian selatan, sebagai daerah wisata eksklusif. Untuk dan atas nama kemanfaatan yang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan daerah, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) akan memberi kemudahan untuk proses permohonan pengelolaan pulau-pulau kecil tersebut.
Hal itu terungkap dalam pemaparan Direktur Pemberdayaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil DKP, Toni Ruhiman, di Lotim Senin (19/4) kemarin. Bagi Toni Ruhiman, dengan hanya membiarkan gili-gili tersebut seperti adanya saat ini, justru tidak memberikan manfaat apa pun bagi masyarakat dan daerah. ‘’Pulau-pulau kecil itu sesungguhnya memiliki potensi kekayaan yang besar bagi daerah ataupun negara jika dikelola dengan baik,’’ katanya.
Toni mencontohkan beberapa tempat di luar negeri ataupun di Indonesia yang telah berhasil mengembangkan pulau-pulau kecilnya sebagai penghasil pendapatan asli daerah (PAD) yang besar. ‘’Misalnya kepulauan Maladewa atau Maldives . Dengan penduduk mayoritas muslim, mereka mendapatkan Rp 14 miliar dari hasil pariwisata gilinya. Begitu juga dengan Pulau Moyo di Sumbawa, telah berhasil membawa namanya hingga ke tingkat dunia internasional,’’ katanya.
Karenanya ia mengajak pemerintah daerah agar memaksimalkan pengelolaan pulau kecil yang ada di wilayahnya. Khusus bagi investasi asing di sebuah pulau, telah ada aturan menteri yang mengatur bahwa pengelolaan pulau oleh investor asing harus mendapat rekomendasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI . Begitu juga dengan investasi di pulau terluar Indonesia yang mensyaratkan harus adanya zona keamanan. ‘’Kita mengetatkan aturan tentang pengelolaan pualu kecil ini sejak hilangnya Pulau Sipadan dari Indonesia ,’’ ujarnya.
Sementara itu Bupati Lotim, H M Sukiman Azmy menyatakan, saat ini pihaknya sedang menggarap kerjasama dengan salah satu investor asing untuk pengelolaan Gili Sunut. PT Blue Ocean Indonesia, konsorsium investor dari Amerika dan Italia dan bermarkas di Singapura tersebut saat ini tengah mengkonsep investasi senilai lebih dari Rp 250 miliar tersebut untuk pengelolaan Gili Sunut. ‘’Kami memang berharap dukungan penuh dari pemerintah pusat untuk pelaksanaan rencana investasi tersebut,’’ ujarnya.
Lotim sendiri saat ini menginventarisir sebanyak 35 buah gili. Ada yang berpenghuni, lebih banyak yang tidak berpenghuni. Seperti diberitakan harian ini beberapa waktu lalu, bahkan beberapa gili di antaranya diklaim oleh oknum-oknum tertentu sebagai miliknya, dan konon telah memiliki sertifikat hak milik. ‘’Dengan bantuan dan dukungan pemerintah pusat serta kemudahan regulasi dari atas, kami berharap pemanfaatan dan pengelolaan gili-gili tersebut pada gilirannya akan memberi kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat,’’ harapnya. (038)