RedaksiIklanArsipHalaman UtamaHari Ini
Tantangan Pariwisata NTB Menuju Visit Lombok Sumbawa 2012
Penerbangan Terbatas, Infrastruktur Belum Memadai
Sosial
Politik
Kriminal
Interactiv
Olah Raga
Hiburan
 
 
updated: Rabu 17/06/09
Nusa Tenggara Barat di bawah kemimpinan TGH.M.Zainul Majdi MA dan Ir.H.Badrul Munir MM, menggebrak pembangunan sektor pariwisata NTB yang belakangan ini ‘’lesu darah’’ melalui program Visit Lombok Sumbawa 2012. Program ini menargetkan jumlah kunjungan wisatawan ke Bumi Seribu Masjid ini sebanyak 1 juta orang. Sebuah target spektakuler di tengah kesulitan keuangan masyarakat dunia akibat krisis finansial. Selain dampak krisis, masih ada sejumlah persoalan yang menghadang untuk menarik minat wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. Apa saja kendalanya?

PERSOALAN transportasi udara, selama ini masih banyak dikeluhkan pelaku wisata. Jumlah seat yang tersedia sangat terbatas Data yang dihimpun Suara NTB seat pesawat ke Mataram 1.989 per hari. Jumlah seat perbandingan sangat jauh dengan jumlah kamar hotel berbintang yang mencapai 3.000 dan kamar hotel melati mencapai 4.800 kamar.

Bercermin dari data itu, Direktur Jatatur Mataram, Johan Olii kepada Suara NTB di ruang kerjanya belum lama ini menilai bahwa jumlah itu tidak sebanding. “Kalau dibandingkan antara seat dengan jumlah kamar hotel sangat kurang. Apalagi diketahui tidak semua yang datang menginap di hotel,’’ ungkapnya.

Langkah pemerintah bersama para pelaku wisata melobi armada airlines agar menambah frekwensi penerbangan ke NTB cukup tepat. Jika kondisinya tetap seperti sekarang menurut Johan, rasanya tidak mungkin mendatangkan pesawat yang lebih besar. Pesawat jenis Boeing 737-ER 900 dengan kapasitas seat 213 tak memungkinkan. ‘’Run way bandara masih pendek,’’ cetusnya. Yang bisa baru boeing seri 400 denagn kapasitas 160 seat. Kesulitan ini tentu baru bisa teratasi jika Bandara Internasional Lombok (BIL) beroperasi.

Sambil menunggu kelarnya BIL kegiatan melobi armada airline agar menambahkan flight (penerbangan) ke NTB harus terus digalakkan. Lobi penambahan penerbangan tak hanya dilakukan untuk penerbangan domestik, tetapi juga internasional. Untuk penerbangan domestik, rute Mataram-Yogyakarta langsung misalnya, mendesak dilakukan. Pasalnya, rute penerbangan ini tidak ada, padahal Yogya dikenal sebagai destinasi wisata. ‘’Dulu pernah Mataram-Yogyakarta, tapi dicabut. Sekarang ini harus dibuka kembali karena peluang ini besar,’’ saran Johan.

Selain seat, harga tiket dari dan ke Mataram, juga sebuah persoalan. Menurut Johan, harga tiket pesawat sangat mahal. Hal ini pernah dikeluhkan juga Gubernur NTB beberapa waktu lalu. Gubernur bahkan minta agar harga tiket dari dan ke Mataram diturunkan. Mahalnya harga tiket menurut TGH.M.Zainul Majdi, mempengaruhi tingkat kunjungan ke daerah ini. Saran Johan Olii perlu dilakukan lobi pada airline. ‘’Ajak pihak airline untuk saling membantu. Kemas pariwisata dengan sebaik mungkin. Bisa dengan mengadakan bentuk paket-paket tour. Turunkan harga tiket,” imbuhnya.

Saran senada juga dilontarkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restorant Indonesia (PHRI) NTB I Gusti Lanang Patra. ‘’Meningkatkan aksesibilitas penerbangan merupakan hal yang penting,’’ cetusnya.

Ketua HPI NTB, Drs. H.L. Fatwir Uzali, SPd menyarankan, lobi rute penerbangan yang dipilih pemerintah harapnya benar-benar memiliki pangsa pasar yang jelas. Fatwir menyebut pangsa pasar tersebut dengan istilah basis. Basis orang yang mainded pariwisata antara lain Bali, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Medan, Makassar dan Manado.Melihat kondisi sekarang, dikatakan Fatwir manambah penerbangan adalah sebuah keharusan.

Selain penerbangan, persoalan infrastruktur sebagai penunjang utama yang memudahkan wisatawan mengunjungi objek wisata juga sebuah persoalan besar. Namun adanya keberpihakan pemerintah menjadikan perbaikan infrastruktur sebagai prioritas, itu menjunjukkan hal yang positif.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, Drs. L. Gita Ariyadi mengakui masih minimnya infrastruktur penunjang itu. Namun ia membantah jika ada yang mengatakan bahwa perbandingan antara gencarnya kegiatan promosi dengan upaya perbaikan infrastruktur ke objek wisata, lebih besar pasaak dari pada tiang.

Disebutkan, dana perbaikan infrasturktur pariwisata itu lebih besar dibandingkan dengan biaya promosi. Besaranya disebutkan mencapai Rp 40 miliar. Ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai fokus pada perbaikan infrastruktur, terutama jalan ke objek wisata. Hanya saja hingga sekarang, belum jelas fokus daerah pariwisata mana yang akan digarap.

Semestinya, menyadari keterbatasan dana. Ada skala priroritas yang bisa dilakukan pemerintah dalam membangun infrastruktur. ‘’Utamakan objek-objek wisata yang banyak pengunjung.’’ Seperti Pantai Senggigi, Gili Trawangan dan jalan menuju wisata Pantai Hu’u. Dengan sarana penunjang yang memadai, memajukan pariwisata NTB tidak berhenti dalam tataran asa menyaingi pariwisata Bali. Bahkan lebih dari itu, NTB bisa menjadi destinasi wisata utama. Mampu tidak saja mendatangkan 1 juta wisatawan, namun berjuta-juta wisatawan. (rus)