Mataram (Suara NTB)
Ujian Nasional (UN) 2008/2009 sejak awal pelaksanaan hingga pengumuman hasil, diwarnai beragam persoalan. Mulai dari munculnya ujian pengganti (ulang) karena ditengarai ada kecurangan, Tingginya angka ketidaklulusan hingga adanya penolakan oleh Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kota Mataram. Data dari DInas Pendidikan Pemuda dan olah Raga menyebut sebanyak 8.622 orang tidak lulus se NTB dan sedikitnya 13 sekolah yang siswanya 100 persen tidak lulus.
Ketua Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustik) Universitas Mataram (unram), IG. Pramudya Ananta, MSc. Ed.D., selaku Koordinator Scaning Pemindain Lembar Jawaban UN (LJUN)) kepada Suara NTB menduga adanya sejumlah kecurangan yang memicu terjadinya kekisruhan.
Di ruang kerjanya Selasa (16/6) kemarin, Pramudya menilai sebenarnya banyak sekali persoalan yang muncul pada pelaksanaan UN tahun ini. Mulai dari digelarnya UN pengganti, hingga pada belasan sekolah tidak lulus (tidak lulus 100 persen) serta tingginya angka tidak lulus. Kesalahannya, tegasnya bukan pada saat pemindaian, sebab proses pemindaian yang dilakukan Unram berjalan lancar.
Menurut Pramudya, ada beberapa kemungkinan masalah yang muncul di atas. LJUN kemungkinan tidak ada yang dipindai. Lembar jawaban komputer itu kemungkinan tidak sampai di Unram. Hal itu bisa saja terjadi karena disinyalir kesalahan pada data base maupun pada pihak sekolah itu sendiri.
Kemungkinan lainnya, secara teknis ada LJUN yang tidak terpindai. Bisa saat listrik ada gangguan atau kemungkinan kesalahan di Jakarta saat melakukan scooring. Yang jelas, katanya saat proses pemindaian ditemukan ada sekolah yang ditemukan tidak memiliki LJUN.
Diherankan Pramudya, ada dari Dompu dan Bima yang mengirim LJUN salah. ‘’LJUN yang dikirim tahun 2007 lalu, jadi tidak mungkin bisa dibaca oleh komputer karena formatnya kan sudah beda,’’ terangnya. Selain itu, ada juga yang menyampaikan data orang lain. Nama dan identitas lainnya berbeda. ‘’Ini kan jelas karena orang lain yang kerja,’’ duganya.
Terjadinya kesalahan tersebut diduga Pramudya bukan karena tidak disengaja. Dinilai ada unsure kesengajaan. Seperti saat distribusi, dialihkan dulu ke suatu tempat lalu LJUN diganti. Seperti kasus salah satu sekolah yang UN ulang, jawaban sama. ‘’Akibat kecurangan guru itu makanya BSNP menggelar UN ulang untuk menyelamatkan siswa,’’ cetusnya.
Dugaan kuat lain diprediksi Pramudya, saat pengawasan di sekolah. Sistem pengawasan silang dinilai masih kurang tepat. Pasalnya, para pengwas dan guru serta paling bertanggung jawab adalah kepada sekolah diduga kuat kerjasama sebagai tim sukses kelulusan siswa.
Terhadap persoalan itu disarankan, pengawasan hendaknya melibatkan pihak yang benar-benar independen. Melibatkan mahasiswa misalnya. Diyakini mahasiswa kan lebih murah, terarah dan mudah dipertanggungjawabkan. Selain kecurangan, parahnya lagi, faktor ketidahfahaman guru dan pengawas bisa menjadi penyebab kesalahan saat pemindaian. Akibatnya scoring pun jadi salah. Anak jadi korban.
Kepala Sekolah SMA Al-Ma’rif Kota Mataram, M. Furkan, SPd sebagai salah satu sekolah yang disebut-sebut siswanya 100 persen tidak lulus kepada Suara NTB Senin (15/6) menapik informasi yang menyudutkan sekolahnya yang selalu jadi langganan tidak lulus. Menurutnya, sejak tahun 1974 lalu, sejak sekolah ini berdiri, tidak pernah tidak lulus 100 persen. Tahun ini pun katanya angka kelulusan 22.20 persen. Hanya saja untuk jurusan IPA, dengan peserta 11 orang yang 100 persen tidak lulus.
Sebenarnya segala persiapan untuk menghadapi UN telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya secara maksimal. Mulai dari try out hingga pada penambahan jam belajar bagi siswa yang akan mengikuti UN. Menurut pengakuan Furkan, faktor kualitas guru, kemalasan siswa dan kurangnya perhatian orang tua menjadi penyebab utama masih rendahnya angka kelulusan di sekolahnya. Ke depan ia berjanji akan lebih baik dari sekarang.
Selanjutnya, pemerhati pendidikan dari Lembaga Penelitian Pendidikan (LPP) Unram, Drs. Mumbrita Sulaimi, MPd mengutarakan, kualitas UN sangat erat kaitannya dengan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Rendahnya indikator proses bisa menjadi pemicu rendahnya kualitas hasil UN.
Menurut Mumbrita, dukungan masyarakat, kurikulum, keberadaan guru dan siswa adalah unsur-unsur yang harus diperhatikan titik lemahnya sebagai bahan evaluasi. Paling rendah dari unsur yang harus paling banyak perhatian.
Untuk mendapat hasil yang baik, disarankan Mumbrita kualitas unsur itu harus lengkap dan siap. Paling banyak harus mendapat perhatian katanya adalah guru dan siswa. Kekurangan guru misalnya harus segera disikapi. Guru yang baik, semstinya harus bisa memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar. Begitupun rendahnya kualitas siswa. Bagaimanapun, siswa sebenmarnya yang paling menentukan keberhasilannya sendiri. (rus)